Editor 22 Februari 2021

Sejarah tidak mungkin terulang. Bahkan detik yang baru saja berlalu tak mungkin ditarik ke pangkuan. Manusia dapat menguatkan ingatan, namun hingga detik mana ingatan akan sejarah melekat. Bisa karena usia yang menghapus ingatan, bisa pula zaman yang menenggelamkan sejarah.

RA Kartini adalah pahlawan bangsa. Namanya harum mewangi sepanjang masa. Begitu banyak pahlawan Indonesia, namun hanya RA Kartini yang mengukir ingatan akan peran terbaiknya.  Orang Indonesia banyak bertanya, mengapa namanya indah dalam puluhan tahun setelahnya.  Jawabnya singkat dalam cerita,  karena RA Kartini menulis karya terbaiknya dalam sebuah buku, Habis Gelap Terbitlah Terang. Sebuah buku, yang membedakan RA Kartini dan pahlawan lainnya.

Antara sejarah dengan RA Kartini, memiliki tautan yang kental disela-selanya. Sri Rahmi yang lekat dengan panggilan ‘Bunda’ ini, menguatkan tautan antara keduanya dengan mengkandangkan ide-ide yang menorehkan sejarah dalam sebuah karya nyata berupa buku. Kali ini buku yang diterbitkannya, berbeda dengan 5 jilid buku sebelumnya. Buku ini berjudul Tahun Corona, Catatan Peristiwa untuk Anak Cucu.

Masa pandemi adalah masa yang tidak biasa dalam kehidupan manusia. Bagi manusia yang terlahir sekitar tahun 1900-an, masa pandemi adalah hal baru dalam sunatullah kehidupan. Hal ini berarti bahwa masa sebelumnya pernah terjadi beberapa kali musim wabah yang merenggut jutaan nyawa manusia. Bukan karena sering nonton film menjadi tahu, namun karena beberapa buku berhasil terbit di masa pandemi di abad-abad sebelum ini.

Sri Rahmi, menerobos masa pandemi dengan meluncurkan gagasan mendokumentasikan peristiwa yang layak menjadi sejarah untuk anak cucu generasi mendatang dalam sebuah buku. Peristiwa alam yang terjadi di awal pandemi yaitu bulan Januari 2020 hingga disebarkannya vaksin di bulan Januari tahun berikutnya, tertulis dalam rentetan sub-sub judul sebuah jilid buku terbarunya tersebut. Mulai dari peristiwa politik, ekonomi, sosial, hingga peristiwa joki-jokian (lucu-lucuan) yang sebenarnya menggambarkan kondisi tingkat pendidikan masyarakat level  grass root.

Berikut ini antara lain joki-jokian yang terekam dalam tulisan:

  • Kata lockdown yang sering muncul dalam media diplesetkan menjadi ‘lauk daun’, atau ‘look down’ (lihat ke bawah), atau Lock (kunci) down(bawah) artinya kunci dibawah keset, ada juga lok (liat) don (jangan) jadi lokdon artinya merem (jangan lihat). 
  • Masa pandemi banyak orang positif. Positif diartikan hamil, bukan Corona.
  • Bulan Desember masyarakat banyak Panen PSBB. artinya hasil dari stay at home kebanyakan wanita positif dan melahirkan (panen) bulan Desember.
  • Pada masa wabah begini orang lebih takut pada suara orang bersin daripada suara kuntil anak.

Dan masih banyak candaan-candaan masyarakat yang menyelingi masa pandemi tercatat dalam kisah-kisah enak dibaca di buku tersebut.

Selain gurauan masyarakat yang terkesan ‘garing’ tersebut, peristiwa sosial juga banyak ditulis Bunda Rahmi dalam buku ini. Seperti fenomena PHK besar-besaran, jumlah pengangguran dimana-mana, hingga tingkat perceraian yang meningkat sebagai dampak pandemi. Dan yang lebih membuat masyarakat ‘baper’, adalah tradisi bulan Ramadhan yang biasanya digunakan untuk bercengkrama antar anggota keluarga dan masyarakat, pada masa pandemi ini dilarang oleh pemerintah. Bahkan bukan sekedar sholat tarawih yang dilarang dilakukan di masjid, namun sholat wajib 5 waktu pun dilarang berjamaah di masjid. Bagaimana umat islam tidak patah hati? (NP)

Baca juga :

Mari Hidup Sehat, Lambung Kita Bukan Tong Sampah!

Leave a comment.

Your email address will not be published. Required fields are marked*