Dominasi politik mengalihkan perhatian publik pada pelayanan-pelayanan dasar di pemerintahan, bidang kesehatan, pendidikan, dan lain-lain. Kita bisa memotret fenomena ini di media mainstream yang selama ini sebagai corong informasi bagi publik. Dialog-dialog mereka tak banyak menyoal masalah rakyat seperti petani, nelayan, dan isu-isu dasar mayarakat. Ya, kalaupun ada, persentasenya sangat kecil.
Tapi tak soal. Realita ini sesungguhnya adalah potret positif. Indikasi bahwa di Indonesia, proses demokrasi sedang berjalan. Satu kondisi yang diimpikan oleh massa reformasi di tahun 1998 setelah menurunkan rezim orde baru. Sebab itu, publik di negara ini patutlah bersyukur.
Bagaimana tidak. Pasca turunnya presiden Soeharto yang berkuasa selama 32 tahun di tahun 1998. Saat kondisi pemerintahan kembali stabil di tahun 1999. Indonesia di masa depan yang maju, yang demokratis, yaitu antitesa dari Orde Baru yang dinilai sarat korupsi, kolusi dan nepotisme adalah bayangan dan harapan setiap orang.
Tapi berikutnya, apa yang terjadi? Usai bangsa ini melalui berbagai pemilihan demi pemilihan presiden. Dan, juga melewati berbagai rancang bangun sistem tata kelola pemerintahan. Di pusat maupun di daerah. Bayangan itu tampak masih jauh.
Demokrasi yang kini berjalan masih sebatas prosedural. Sedangkan substansinya, yaitu penyelenggaraan negara yang transparan, akuntabel dan jauh dari tekanan politik belum sepenuhnya terealisasi. Sebaliknya, proses ini justru dipenuhi catatan buruk seperti tingginya angka korupsi di tubuh pemerintahan, proses politik yang dibayangi abuse of power, politik uang atau transaksional, pemilih pragmatis, partai politik id yang rendah, akses terhadap suksesi kepemimpinan yang tidak terbuka, dan lain sebagainya.
Dalam konsep dan praktik negara demokrasi, preferensi-preferensi politik berbeda sesuungguhnya biasa saja. Tapi di Indonesia, kita seperti tak siap menghadapi perbedaan tersebut.Ada gejala besar, sistem keterbukaan yang dibangun pasca reformasi-termasuk politik dan pemerintahan, malah mendorong masyarakat Indonesia pada disintegrasi sosial.





