Pilihan politik seringkali memecah masyarakat secara sosial. Masalah utamanya, perpecahan atau polarisasi ini tidak sementara. Seringkali bertahan lama. Bisa dilihat dari perilaku pasca pemilihan, seperti hubungan sosial yang terputus di tengah masyarakat, pembunuhan karakter, kriminalisasi, hingga konflik.
Di era kecanggihan teknologi informasi. Dengan berkembangnya platform media baru berbasis daring, polarisasi politik makin terawat. Seperti pembangunan yang berkelanjutan. Dan serupa cerita yang tiada ending.
Saat ini, platform media baru memang telah memainkan peran besar dalam transformasi informasi di ruang publik. Beban penyebarluasan informasi yang dulu hanya dipundak media-media mainstream kini diambil alih juga oleh mereka. Platforma media baru mudah dan dapat diakses siapapun. Media baru juga mewakili individu.
Sayangnya, media baru yang lebih bebas dan terbuka berada di luar kontrol dalam proses penyebarluasan informasinya. Kabar beredar di media baru sifatnya personal ke personal, sehingga verifikais data benar-benar hanya dibatasi oleh hak dan etika personal penerima pesan.
Berbeda dengan media mainstream yang memiliki mekanisme verifikasi dan validasi data yang dikelola secara formal, bertahap dan berjenjang. Informasi Media mainstream juga memiliki standar dan kaidah-kaidah baku dalam penyebarluasan informasi kepada publik.
Kebebasan dan keterbukaan media berbasis daring inilah yang dimanfaatkan oleh individu untuk menyebarluaskan hoaks. Tujuannya bermacam-macam. Kalau dalam politik, tujuannya bisa jadi untuk menaikkan popularitas dukungan politiknya, dan bisa pula untuk menjatuhkan popularitas lawan politiknya.





