Dalam banyak teori dikatakan, bahwa politik memang tidak dapat dipisahkan dari masyarakat kita. Individu-individu dalam masyarakat merupakan manusia dengan peran – peran ganda, ia manusia politik, ia pula manusia ekonomi, dan ia pula manusia budaya, dan lain-lain-paling tidak, pandangan seperti itu dapat ditemukan pada pemikiran tokoh seperti Robert Dahl dkk.
Peran-peran itu bisa dijalankan secara berbeda pada waktu dan konteks berbeda, namun dapat pula dijalankan secara bersamaan dalam waktu dan konteks yang sama. Oleh karena itu, tak heran, bila akhirnya di tengah masyarakat, kita akan dengan mudah menemukan pangkalan ojek sekaligus berfungsi sebagai posko pemenangan, ketua masjid sekaligus juru kampanye kandidat tertentu, dan lain sebagainya. Demikian pula media massa. Di samping menyandang status sebagai industri yang berorientasi pada ekonomi, di sisi lain juga mengemban amanah sebagai salah insititusi demokrasi.
Lewat media, kebebasan berbicara dan berpendapat dapat tersalurkan dengan efektif. Media massa menempatkan diri sebagai representasi publik. Dan, sebagai representasi publik, media menjalankan fungsinya sebagai penyedia informasi bagi publik. Termasuk memenuhi kebutuhan individu dalam masyarakat atau publik sebagai individu politik.
Akan tetapi, seperti dikemukakan sebelumnya pada tulisan ini, peristiwa politik yang disajikan media cenderung tidak proporsional. Melebihi dari kebutuhan yang seharusnya diterima secara ideal individu sebagai pemeran ganda dalam masyarakat.
Pada ruang publik atau masyarakat, tidak semua wacana dapat diterima sebagai kebutuhan bersama. Termasuk wacana politik yang begitu sangat dominan. Lebih parah lagi, karena media merupakan ruang tempat berkumpulnya aktor dan individu yang juga memiliki peran ganda, memasukkan kepentingannya agar ikut tersalurkan ke ruang publik.





