gegge 15 Oktober 2020

Sering terjadi, seorang yang patah hati menuliskan pengalaman patah hatinya dengan menangis, sedih yang dalam, tapi saat tiba di tangan pembaca malah gagal membuat pembaca ikut bersedih apalagi menangis. Ini salah satu bukti bahwa menulis pengalaman nyata itu tidak selamanya mudah, juga sebagai bukti bahwa  penulisnya gagal dalam meracik bumbu untuk tulisannya. Ilmu meracik bumbu ini yang tidak bisa didapat dengan sekali menulis. Butuh jam terbang lebih.

Seorang mahasiswi baru yang baru tahun ini berpisah dengan ibunya. Segalanya diurus sendiri di kosannya. Hingga suatu hari dia merindukan masakan sayur bening ibunya. Labu, bayam, jagung, dibelinya. Dimasak seperti petunjuk ibunya melalui telpon atau bahkan video calling, nggak lupa tambahkan garam sesuai dengan petunjuk ibunya. Hasilnya? Mahasiswi baru ini masih merasa bahwa sayur bening buatan ibunya jauh lebih nikmat. Ini bukan karena persoalan rindu pada ibunya melainkan jam terbang yang berbeda. Ibunya memasak sayur bening mungkin dari gadis hingga punya anak gadis, sementara mahasiswa baru tadi baru memulainya. Itulah yang membuat para ahli bahkan penemu, baru bisa berteriak Yess! setelah berkali-kali gagal dalam percobaannya.

Setiap penulis punya tempat wisuda masing-masing. Beberapa penulis Ibu adalah Cinta  menjadikan antologi ini sebagai tempat wisudanya. Jika benar-benar ingin dikenal sebagai penulis, tentu harus banyak berkarya lagi. Suatu saat bisa memisahkan diri dari antologi, membuat kumpulan cerita sendiri, menulis novel sendiri. Tentu saja itu bukan hal yang mustahil. Menulis adalah skill, hanya butuh pembiasaan. Pembiasaan menulis, membaca, dan menyisihkan waktu untuk menulis. Ya, menyisihkan waktu, bukan menghabiskan waktu. Buku setebal 200 halaman, itu berawal dari halaman pertama. Buku setebal 200 halaman jika ditulis satu halaman per hari, hanya butuh waktu 200 hari (nggak sampai setahun). Jadi, jangan heran kalau ada penulis yang launching buku sekali setahun, itu hal yang biasa buat penulis yang bisa mengatur waktunya. Bahkan launching buku setiap bulan pun bisa, jika bisa menulis minimal 5 halaman per hari.

Ibu adalah Cinta sebagai antologi kisah nyata telah sukses menggambarkan sosok ibu yang penuh perjuangan, dalam tokohnya masing-masing. Meski begitu, tentu saja masih dibutuhkan jam terbang yang  lebih banyak lagi, untuk karya-karya berikut yang lebih gemilang lagi. Berhasil menulis hingga kemudian bisa diterbitkan, tentu saja adalah hal yang sangat istimewa bagi pemula tetapi bukan berarti itu menjadi akhir dari segala pencapaian dalam menulis.   

Jika Andrea Hirata mampu menuliskan pengalamannya dalam sebuah tetralogi, bukan tak mungkin salah satu kisah dalam Ibu adalah Cinta bisa dikembangkan menjadi sebuah novel. Tentu saja setelah penulisnya  menguasai ilmu meracik bumbu tulisan dan memperbanyak jam terbangnya.

Leave a comment.

Your email address will not be published. Required fields are marked*