Editor 3 Juli 2024

Boleh dikata, minimalis bersisian jauh dengan “ampas” modernitas, iaitu hidup “hedon” atau konsumtif. Dan sekarang, di era yang oleh para pemikir disebut postmodern. Era bumi yang kata Jean Baudrillard dihuni oleh masyarakat konsumsi, cara ini seperti titik cahaya dari lubang kecil pada dinding kamar nan gelap pekat.

Baudrillard adalah pemikir posmodern dari Prancis. Ia banyak mengkritik konsep kapitalisme modern.  Lewat tulisan-tulisannya, ia seseungguhnya mendorong masyarakat membatasi keinginan-keinginannya yang meruah dalam memenuhi kebutuhannya. Searah dengan cara minimalis.

Dalam banyak literatur, gaya hidup minimalis disebut  terinspirasi dari prinsip Zen. Ajaran Buddha tentang hidup sederhana. Gerakan ini tumbuh di Jepang. Dan, berkembang karena turut dipengaruhi kondisi alam Jepang yang rawan bencana.

Penggunaan barang  efisien dan praktis mengurangi beban dan sangat membantu pergerakan serta mobilitas ketika terjadi bencana seperti tsunami. Juga mengurangi resiko kerusakan bila gempa terjadi.

Berikutnya, gaya hidup ini jadi populer di dunia. Terutama di kalangan anak-anak muda. Kepopuleran ini termasuk  di Indonesia seiring beredarnya buku-buku bertopik gaya hidup minimalis. Diantara buku populer versi gramedia.com, berjudul Mari Method, ditulis Marie Kondo. 

Penjelasan ini mengingatkan kita pada beberapa para kritikus dunia modern. Tentang moralitas modern yang dianggapnya absurd atau nihil. Menurut mereka, modernitas barat telah gagal menciptakan basis moralitasnya sendiri. Sebab itu,  moralitas agama, kearifan lokal atau tradisional, dan semacamnya akan tetap hadir sebagai rujuakan masyarakat modern.

Leave a comment.

Your email address will not be published. Required fields are marked*