Di barat sendiri, seperti di Prancis, gerakan gaya hidup yang bersumber dari filsafat dan pengetahuan modern serupa minimalis ini sudah lama ada. Seperti gerakan penurunan dan pembatasan di Prancis yang dipengaruhi pemikiran sosialis dan postmodern. Orientasinya kepada penyelamatan alam dan lingkungan.
Dalam politik. Kita dapat memotretnya pada gerakan partai politik hijau yang berkembang secara global.
Gerakan penurunan hampir sama dengan gaya minimalis. Hidup dengan membatasi keinginan untuk membeli barang. Menyingkirkan yang tidak perlu. Dan, banyak memanfaatkan barang berbahan daur ulang. Lebih fanatik lagi, sebagian mereka bahkan tidak berbelanja bahan makanan. Mereka mengonsumsi bahan makanan sisa yang masih layak.
Di Indonesia. Dilihat dari banyak aspek, gaya minimalis ini sangat terkait dengan kita. Dari aspek sumber nilai, kita yang mayoritas penduduknya beragama, terutama Islam juga mengajarkan hal serupa. Dalil-dalil Islam sangat menganjurkan kesederhanaan atau tidak berlebih-lebihan. Diantaranya, ayat dalam Al Quran, Surat Al-A’raf Ayat 31.
” Wahai anak cucu Adam! Pakailah pakaianmu yang bagus di setiap (memasuki) masjid, makan dan minumlah, tetapi jangan berlebih-lebihan. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan.”
Pada ayat lain, QS. Al-Furqan: 67, “Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebih-lebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian.”





