Editor 3 Juli 2024

Abdul Chalid, Founder Media Komunitas, Celebesupdate.com

Saya menyimak perbincangan Desta, Vincent dengan bintang tamunya, Raditya Dika. Di kanal youtube-nya, Vindes yang beken di kalangan anak muda itu, mereka diantaranya mengulik gaya hidup komika yang akrab disapa Radit tersebut.

Walau dipenuhi guyon dan kadang remeh, tapi bincang-bincang Vindes-Radit banyak isi juga. Yang menarik. Setidaknya menurut Ane, ialah  pemikirannya yang sangat filosofis tentang gaya hidup. Radit menyebut, ia “hidup” dengan cara “minimalis”.

Kalau kita buka beberapa artikel, minimalis dijelaskan sebagai gaya hidup sederhana. Lebih tepatnya, efisien dalam memanfaatkan materi atau kepemilikan barang pribadi.

Tidak berlebihan di tengah keberlimpahan-kondisi yang sesungguhnya,  memberinya potensi memiliki banyak barang. Minimalis menekankan pada kualitas. Bukan berarti, ia tak mampu atau tak punya uang.

Kalau orang Makassar, kira-kira dia akan bilang, “kebutuhan kita itu tidak banyak-banyakJi sebenarnya bro!  Misal, kalau sudah punya satu jam tangan. CukupMi itu saja. Gunanya, kan…, hanya sebagai pengingat waktu. Jadi tidak perlu lagi punya lebih. Apalagi sampai dikoleksi”.

Boleh dikata, minimalis bersisian jauh dengan “ampas” modernitas, iaitu hidup “hedon” atau konsumtif. Dan sekarang, di era yang oleh para pemikir disebut postmodern. Era bumi yang kata Jean Baudrillard dihuni oleh masyarakat konsumsi, cara ini seperti titik cahaya dari lubang kecil pada dinding kamar nan gelap pekat.

Baudrillard adalah pemikir posmodern dari Prancis. Ia banyak mengkritik konsep kapitalisme modern.  Lewat tulisan-tulisannya, ia seseungguhnya mendorong masyarakat membatasi keinginan-keinginannya yang meruah dalam memenuhi kebutuhannya. Searah dengan cara minimalis.

Dalam banyak literatur, gaya hidup minimalis disebut  terinspirasi dari prinsip Zen. Ajaran Buddha tentang hidup sederhana. Gerakan ini tumbuh di Jepang. Dan, berkembang karena turut dipengaruhi kondisi alam Jepang yang rawan bencana.

Penggunaan barang  efisien dan praktis mengurangi beban dan sangat membantu pergerakan serta mobilitas ketika terjadi bencana seperti tsunami. Juga mengurangi resiko kerusakan bila gempa terjadi.

Berikutnya, gaya hidup ini jadi populer di dunia. Terutama di kalangan anak-anak muda. Kepopuleran ini termasuk  di Indonesia seiring beredarnya buku-buku bertopik gaya hidup minimalis. Diantara buku populer versi gramedia.com, berjudul Mari Method, ditulis Marie Kondo. 

Penjelasan ini mengingatkan kita pada beberapa para kritikus dunia modern. Tentang moralitas modern yang dianggapnya absurd atau nihil. Menurut mereka, modernitas barat telah gagal menciptakan basis moralitasnya sendiri. Sebab itu,  moralitas agama, kearifan lokal atau tradisional, dan semacamnya akan tetap hadir sebagai rujuakan masyarakat modern.

Di barat sendiri, seperti di Prancis, gerakan gaya hidup yang bersumber dari filsafat dan pengetahuan modern serupa minimalis ini sudah lama ada. Seperti gerakan penurunan dan pembatasan di Prancis yang dipengaruhi pemikiran sosialis dan postmodern. Orientasinya kepada penyelamatan alam dan lingkungan.

Dalam politik. Kita dapat memotretnya pada gerakan partai politik hijau yang berkembang secara global.

Gerakan penurunan hampir sama dengan gaya minimalis. Hidup dengan membatasi keinginan untuk membeli barang. Menyingkirkan yang tidak perlu. Dan, banyak memanfaatkan barang berbahan daur ulang. Lebih fanatik lagi, sebagian mereka bahkan tidak berbelanja bahan makanan. Mereka mengonsumsi bahan makanan sisa yang masih layak.

Di Indonesia. Dilihat dari banyak aspek, gaya minimalis ini sangat terkait dengan kita. Dari aspek sumber nilai, kita yang mayoritas penduduknya beragama, terutama Islam juga mengajarkan hal serupa. Dalil-dalil Islam sangat menganjurkan kesederhanaan atau tidak berlebih-lebihan.  Diantaranya, ayat dalam Al Quran, Surat Al-A’raf Ayat 31.

” Wahai anak cucu Adam! Pakailah pakaianmu yang bagus di setiap (memasuki) masjid, makan dan minumlah, tetapi jangan berlebih-lebihan. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan.”

Pada ayat lain,  QS. Al-Furqan: 67, “Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebih-lebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian.”

Pada aspek perilaku dan budaya. Indonesia darurat hidup minimalis sebenarnya. Negara kita kaya raya dengan sumber daya alam. Tapi tidak kaya-kaya dan dililit utang. Lembaga-lembaga dan sebagian pejabatnya terlampau dan terlanjur dirasuki gaya hidup borjuis, hedon, konsumtif dan korup.

Jadi, sosok seperti Raditya Dika benar-benar kita perlukan. Ia bisa jadi role model anak-anak muda. Kaya tapi hidup minimalis. Jangan kayak kita-kita (red:saya) yang celoteh sana-sini. Nanti dikata, ala-ala mau minimalis, padahal memang tidak mampu…Wakakak!

Viagra est certainement l`un de la drogue la plus populaire dans le monde et est utilisé par les hommes pour obtenir le plus du point de vue de l`érection du pénis. Comme il s`agit d`un médicament qui ne doit pas nécessairement être prescrit, le Viagra Original de Pfizer peut également être acheté en ligne https://pharmacie-pilule.com ainsi que dans une pharmacie traditionnelle sans ordonnance. Le produit peut également être acheté dans la catégorie générique à moindre coût et il est également important de souligner que le fabricant Pfizer vend également d`autres versions qui sont respectivement sous le nom de Viagra Professional, Viagra Soft Tabs et Viagra Super Active.

Wallahu ‘alam…. 

Leave a comment.

Your email address will not be published. Required fields are marked*