Editor 2 Oktober 2025

Data Kementerian Kominfo tahun 2023 mencatat ada sekitar 2.300 konten hoaks tersebar setiap bulan, dan sebagian besar diakses oleh anak muda, khususnya Gen Z . Lebih dari 70 persen Gen Z aktif menggunakan media sosial, sehingga mereka sangat rentan terpapar hoaks, ujaran kebencian, hingga propaganda ideologi transnasional yang bertentangan dengan nilai-nilai Pancasila.

Contoh paling kongkrit, yaitu kasus  SMA 72 Jakarta pada November 2025 lalu. Peristiwa itu memberikan gambaran yang sangat jelas mengenai dampak ekstrem dari paparan informasi terhadap perilaku,  terutama generasi muda dari kalangan pelajar. Paparan konten kekerasan di media sosial tidak hanya memicu tindakan agresi, tetapi juga membentuk pola pikir, identitas, dan bahkan metode aksi siswa dalam peristiwa tersebut.

Dari sejumlah riset disimpulkan bahwa, paparan informasi dari dunia platform digital berdampak pada perilaku siswa dalam tiga aspek utama yang terkonfirmasi dari barang bukti dan analisis digital forensik. Pertama, adanya radikalisasi berbasis estetika dan imitasi (Memetic Radicalisation). Pelaku tidak terafiliasi dengan kelompok teror mana pun, namun ia terpapar dan mengagumi estetika kekerasan global. Analisis dari Global Network on Extremism and Technology (GNET) menyebut fenomena ini sebagai “memetic radicalisation” atau radikalisasi berbasis tiruan . Pelaku meniru gaya, simbol, dan gestur dari pelaku penembakan massal di luar negeri, bukan karena memahami ideologinya, melainkan karena terpesona pada citra visualnya. Hal ini dibuktikan dengan tulisan di senjata mainannya yang menjadi barang bukti kunci.

Kedua, idolisasi tokoh kekerasan global. Polisi menemukan bahwa pelaku terinspirasi oleh setidaknya enam pelaku serangan massal dari luar negeri, mulai dari pelaku penembakan di Columbine (AS, 1999) hingga penembak di Christchurch (Selandia Baru, 2019) . Ia bahkan menuliskan nama Brenton Tarrant dan frasa “Welcome to Hell” di senapan mainannya . Ini menunjukkan bahwa pelaku menjadikan figur-figur kekerasan sebagai panutan dan pahlawan, sebuah perilaku yang dipelajarinya dari forum-forum online dan media sosial .

Ketiga, yaitu akuisisi pengetahuan teknis untuk bertindak. Paparan informasi tidak hanya mengubah pola pikir, tetapi juga membekali pelaku dengan kemampuan teknis. Ia mempelajari cara merakit bom dari konten online. Investigasi menunjukkan ia aktif mencari konten kekerasan, termasuk cara merakit bom, dan bergabung dengan komunitas online yang mengagungkan tindak kekerasan

Dalam konteks inilah Pancasila dapat berfungsi sebagai penyaring di Era Disrupsi Informasi ini. Gen Z adalah “digital native” yang hidup di tengah banjir informasi. Pancasila dapat dikuatkan kembali sebagal penyaring dampak negatif globalisasi seperti hoaks, perpecahan sosial, dan radikalisme yang banyak beredar di ruang digital .

Pancasila adalah basis etika dan moral. Di tengah krisis moral yang melanda berbagai lini, nilai-nilai Pancasila menawarkan tuntunan yang konkret. Nilai Pancasila merupakan intisari dari nilai-nilai agama. Pada sila pertama, yaitu Ketuhanan Yang Maha Esa adalah pedoman dalam mendeteksi informasi yang baik dan buruk, bermanfaat atau tidak bermanfaat serta dibutuhkan atau tidaknya sebuah informasi.

Dalam konteks digital, fungsi ini dapat dipersonifikasikan sebagai filter budaya yang menilai informasi, konten, dan interaksi komunikasi berdasarkan nilai luhur Pancasila lainnya, yaitu kemanusiaan yang adil dan beradab (sila kemanusiaan), persatuan Indonesia (sila persatuan), kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/ perwakilan (sila deliberatif), serta keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia (sila keadilan sosial).

Sebagai Perekat di Tengah Polarisasi. Ruang digital seringkali menjadi ajang polarisasi dan ujaran kebencian. Di sinilah nilai persatuan Pancasila menjadi sangat relevan. Generasi Z diajak untuk tidak mudah terprovokasi dan mampu berdiri membela pluralitas . Bahkan, DPR RI mendorong adanya ruang dialog kritis yang menghubungkan generasi muda dengan nilai-nilai Pancasila untuk membahas isu-isu kekinian, sehingga mereka memahami bahwa Pancasila bukan hanya idealisme, tetapi juga solusi atas dinamika politik dan sosial

Leave a comment.

Your email address will not be published. Required fields are marked*