Pancasila bagi Gen Z idealnya semakin menguat sebagai kompas moral dan perekat bangsa di tengah kerasnya arus digital. Gen Z membutuhkan Pancasila sebagai filter informasi, pondasi etika, dan antidotum terhadap polarisasi.
Namun, tantangannya terletak pada kemampuan kita dalam menyajikan Pancasila. Bukan pada “konten” Pancasila, melainkan pada “konteks” dan “metode” penyampaiannya. Pendekatan yang dogmatis dan tekstual harus ditinggalkan. Sebagai gantinya, diperlukan pendekatan yang dialogis, kreatif, dan adaptif dengan budaya digital (TikTok, Instagram, podcast, film pendek).
Aktualisasi Pancasila harus “berbicara dalam bahasa zaman mereka,” hadir bukan hanya dalam pidato, tetapi dalam aksi nyata melawan hoaks dan intoleransi di media sosial.
Selamat Hari Kesaktian Pancasila!





