Editor 29 November 2023

Studi tentang perkotaan sebenarnya bukanlah hal baru dalam kajian ilmu pengetahuan. Sejak masa Yunani Kuno, studi kota telah dilakukan oleh para pemikir atau filsuf, terutama dalam mengurai masalah sosial, ekonomi, dan politik. Tesis-tesis tentang negara di awal perkembangannya selalu dilihat dalam lokus masyarakat perkotaan.

Hampir setiap filsuf membangun kajiannya dengan berangkat dari realitas masyarakat kota. Aristoteles misalnya dalam La Politica menjawab pertanyaan mendasar mengenai apakah negara itu, siapakah yang menjadi warga negara, apa itu demokrasi politik, teokrasi, oligarki, aristokrasi, hingga perdebatan filsafat rasionalitas. Karya klasiknya ini juga memuat peta pemikiran politiknya lewat dialektika filsafat politik, negara, etika, logika, metafisika, dan strata sosial.

Sebagai pusat dari segala aktivitas manusia, kota memiliki masalah yang kompleks, sehingga menarik perhatian banyak pemikir untuk mengajukan pandangan tentang kota-kota yang ideal. Hingga saat ini, kota dengan segala persoalannya masih mendapat perhatian yang sama. Oleh karena itu, dalam makalah ini,  buku Ahmad Nurmandi yang menjadi objek analisis dalam perspektif politik pembangunan, diyakini penulis juga berangkat dari pertanyaan-pertanyaan yang telah ada sebelumnya. Hal tersebut dapat disimpulkan melalui pengantar si penulis yang diantaranya mengangkat keprihatinan pemikir sebelumnya tentang kota. Jean Jacques Rousseau misalnya mengatan Perancis tidak akan jaya apabila paris tetap eksis. Ia prihatin melihat masalah perkotaan pada abad Ke-16, di mana kota paris dilanda masalah-masalah sosial. Sikap anti kota Rousseau ini bukanlah tidak beralasan . Kemiskinan, pemukiman kumuh, masalah lingkungan, kemacetan lalu lintas atau masalah sejenisnya. Pertumbuhan penduduk kota di dunia menjadi suatu gejala yang penting, yaitu di setiap tahun. Pegalaman empiris menunjukan bahwa pengelola dan manajer kota telah gagal untuk menjawab tantangan ini.Sebagian besar warga kota hidup di lingkungan yang berkualitas rendah dan tidak mempunyai akses kepada air bersih atau sanitasi yang layak. Pada saat yang sama pertumbuhan kota telah menyebabkan in-efiesiensi ekonomi, penurunan kualitas lingkungan, dan kesengsaraan penduduknya.

Apa yang menjadi masalah pokok perkotaan di atas saat ini paling banyak dialami negara-negara berkembang. Pertumbuhan kota sebagai dampak dari perkembangan ekonomi, dan di sisi lain didukung oleh meningkatnya populasi manusia menyebabkan kota-kota di negara berkembang berlangsung sangat cepat. Termasuk pula di Indonesia sebagai salah satu negara dengan penduduk besar. Di negara ini, pertumbuhan kota baru berlangsung seiring dengan terjadinya desentralisasi. Sistem ini telah mendorong terjadinya pergeseran kapital menuju kota-kota baru.

Pertumbuhan kota yang sangat cepat secara langsung berimplikasi pada pembanguna infrastruktur dasar dan pelayan publik. Center for Human Settlement ,badan PBB yang menangani pemukiamn dalam laporannya mengestimasikam bahwa sekitar 30% penduduk kota dunia yang sedang berkembang tidak mempunyai akses terhadap air bersih dan 40% penduduk kota di Asia tinggal di pemukiman yang tidak mempunyai sanitasi layak.Karena tidak semua pemukiman informal mempunyai kondisi yang layak, mereka tidak menerima pelayanan infrastruktur dasar seperti jalan, air dan listrik.Indikator kepadatan penduduk atau tingkat hunian per kamar menunjukan tidak cukupnya suplai perumahan. Biaya yang diperlukan untuk memberikan pelayanan yang layak pada semua penduduk sedah tentu sangat besar.Prakash memperkirakan biaya perkapita untuk infrastruktur dasar kota beriksar antara 350-500 dollas AS pada tahun1977, atau 1.400-2.000 dollar AS tahun 1992. Biaya ini hanya sekedar memenuhi kebutuhan perkembangan penduduk dan belum termasuk peningkatan kondisi dan infrstruktur pemukiman yang ada. Bagaimana perkembangan penduduk Indonesia ? Tingkat pertumbuhan yang tinggal di daerah perkotaan meningkat pesat dari tahun 1961 sampai tahun 2005.Di dalam hal ini perlu dibedakan antara dua pengertian,yakni tingkat pertumbuhan penduduk dan level urbanisasi.Dua perhitungan ini umumnya digunakan untuk melihat pertumbuhan penduduk yang tinggal di daerah perkotaan di suatu Negara. Semakin besar tingkat pertumbuhan dan proporsi penduduk kota, maka jumlah penduduk yang tinggal di daerah perkotaan semakin tinggi.Angka pertumbuhan penduduk secara nasional ini mengalami penurunan yang cukup berarti yang antara lain di sbabkan program KB Nasional. Komponen-komponen apakah yang memberikan kontribusi di dalam peningkatan penduduk kota atau yang tinggal di daerah perkotaan? Analisis demografis biasanya mengelompokan komponen-komponen tersebut sebagai pertumbuhan alamiah dari penduduk kota yang ada , migrasi dari luar kota dan reklasifikasi.Yang dimaksud dengan pertumbuhun alamiah adalah jumlah kelahiran dikurangi jumlah kematian dari penduduk yang tinggal di kota.Sedangkan reklasifikasi adalah perubahan status wilayah tertentu dari desa menjadi kota.

Leave a comment.

Your email address will not be published. Required fields are marked*