Celebesupdate.com, Internasional-Sejumlah warga Palestina, termasuk perempuan, anak-anak, dan lansia, kembali memasuki wilayah Jalur Gaza melalui perlintasan Perbatasan Rafah yang berbatasan langsung dengan Mesir, pada awal pekan ini. Kepulangan mereka berlangsung secara bertahap di tengah situasi kemanusiaan yang masih memprihatinkan pascakonflik berkepanjangan di wilayah tersebut.
Rombongan warga yang kembali sebagian besar merupakan pengungsi yang sebelumnya mencari perlindungan di sejumlah wilayah di Mesir. Mereka mengaku ingin segera kembali ke rumah masing-masing meskipun banyak di antara tempat tinggal mereka dilaporkan mengalami kerusakan akibat serangan dan pertempuran.
Di pintu perlintasan, tampak antrean panjang warga yang membawa barang-barang seadanya. Anak-anak digendong orang tua mereka, sementara para lansia dibantu kerabat untuk melintasi area pemeriksaan. Aparat setempat melakukan pemeriksaan dokumen dan pendataan sebelum mengizinkan mereka melanjutkan perjalanan menuju berbagai titik di dalam Jalur Gaza.
Beberapa warga menyampaikan harapan agar situasi keamanan tetap kondusif sehingga mereka dapat kembali menjalani kehidupan secara normal. Mereka juga berharap bantuan kemanusiaan dapat terus mengalir, terutama untuk kebutuhan pangan, air bersih, dan layanan kesehatan yang masih terbatas.
Sementara itu, lembaga-lembaga kemanusiaan internasional menyebut arus kepulangan ini sebagai langkah awal pemulihan sosial, meski tantangan besar masih membayangi. Infrastruktur dasar di sejumlah kawasan dilaporkan belum sepenuhnya pulih, termasuk jaringan listrik dan fasilitas kesehatan.
Pihak berwenang setempat menyatakan koordinasi lintas batas terus dilakukan guna memastikan proses kepulangan berlangsung aman dan tertib. Pengaturan jadwal masuk dilakukan untuk menghindari penumpukan massa di area perlintasan.
Meski demikian, situasi di Jalur Gaza masih dinilai rentan. Banyak keluarga yang kembali harus menghadapi kenyataan pahit berupa rumah yang rusak atau bahkan rata dengan tanah. Namun bagi mereka, kepulangan ke tanah kelahiran tetap menjadi simbol harapan dan awal baru setelah masa pengungsian yang panjang.





