Tapi juga, bagaimana bisa lebih menggunakan hati untuk bisa menyatu dalam memaknai setiap kalimat. Dan tentu saja, butuh kesabaran lebih untuk tiba di level mahir.
Meski telah dinobatkan sebagai pemenang pertama, Rahmania tetap tak ingin memberi pengakuan bahwa dia sudah mahir membaca kitab kuning.
Di akhir wawancara, gadis yang bercita-cita menjadi guru ini membagikan kisahnya ketika awal mondok dan belajar kitab kuning. Rupanya, butuh perjuangan kesabaran yang sangat ekstra untuk memulai karena orang tuanya tidak menyanggupi biaya sepenuhnya untuk mondok.
“Ya, mau nggak mau saya harus mandiri. Karena nggak bisa membayar uang makan di pondok, saya harus masak sendiri saat pertama mondok dulu. Apalagi saya enam bersaudara dan semua harus sekolah,” ungkapnya mengenang awal-awal mondok yang sangat berat.





