Selain sebagai politisi, Fadli Zon juga seorang sejarawan dan budayawan. Ia gandrung mengunjungi tempat-tempat bersejarah serta kolektor buku, tulisan, dan benda-benda bersejarah lainnya. Fadli mengaku banyak belajar dari sosok Ridwan Saidi, dan kerap berdiskusi soal sejarah bersama-sama. Fadli bahkan menyebut di twitternya, bahwa sebagian besar buku dan koleksi benda bersejarah milik almarhum, telah menjadi bagian dari museum pribadinya.
Masih banyak tokoh dan aktivis yang menyampaikan duka atas kepergian Babe Ridwan. Tokoh Betawi ini dikenal luas karena konsistensinya sebagai seorang budayawan yang kritis.
Dalam politik juga begitu. Dalam konteks bernegara, ia bahkan sudah vokal sebagai seorang oposisi sejak mahasiswa hingga saat menjadi politisi Partai Persatuan Pembangunan di senayan pada tahun 1977-1987. Meski dikenal “nyentrik”, tampil dengan gaya rambut gondrong, tetapi jejaknya sebagai seorang aktivis Islam tidak dapat hilang dari dirinya.





