Oleh : S. Gegge Mappangewa

Entah atas dasar apa, ketika pertama menemukannya, aku sangat yakin kalau dia masih bujangan. Meskipun kami sempat bertabrakan pandang beberapa detik, tetap saja aku tak menggunakan kata bertemu untuk momen itu. Akulah yang menikmati momen itu.
Momen di mana kami berdiri di depan pintu lift, dilalap sepi, dan itu bermenit-menit. Puluhan perusahaan yang berkantor di gedung berlantai dua puluh itu, membuat lift pada jam-jam tertentu selalu sibuk.
Sekali lirik, aku bisa menyapu bersih janggutnya yang tidak terlalu tebal. Lirikan berikutnya alis hitamnya. Berikut hidungnya, matanya, bahkan postur tubuhnya yang andai aku merapat dalam gandengannya, aku hanya sebatas pundaknya. Pintu lift terbuka dan aku melangkah masuk dengan harapan dia mengekoriku. Aku kecewa, langkahnya tertahan.
Tak hanya di depan lift itu, ternyata masih banyak pertemuan yang membuat kami bisa bertukar senyum. Kata menemukan telah berganti menjadi pertemuan karena dia pun menyadari kehadiranku di titik temu yang belum bisa juga menyatukan kami. Ya, aku ingin kami bersatu. Berharap setelahnya ada saling jabat tangan dan bertukar nama, bertukar nomor HP, lalu …. Ahhh, aku mengelus dada, sekadar merapikan harapan-harapan yang kutakutkan akan mengecewakan.
Aku sangat berharap dia yang agresif minta kenalan, minta nomor HP, lalu menelponku. Bukankah lelaki iseng suka menelpon? Jika dia lelaki baik-baik, dia pasti punya cara untuk mengenalku lebih dekat, bukan dengan menelpon. Dan aku trauma dengan lelaki baik-baik. Aku sadar, aku tak pernah ditakdirkan untuk mendapatkan lelaki baik-baik. Ya, harusnya saat pertama kali kudapatkan sosoknya di depan lift, aku bukan hanya berharap dia masih bujangan, tapi juga berharap dia bukanlah lelaki baik-baik.
Lagi-lagi aku mengelus dada. Sekadar merapikan kegalauan yang sepertinya akan menyesakkan bila kubiarkan. Aku sudah capai menangis dan hanya punya dua tangan untuk menyeka tangisku. Tidak seperti dulu ketika masih berada dalam lingkaran dakwah, begitu banyak tangan yang siap mendekapku erat saat harus berurai tangis.
Riza yang pertama mengenalkanku dengan lingkaran dakwah. Duduk bermajelis sekali sepekan. Hal yang membuatku betah bahkan ketagihan dengan lingkaran itu karena ada sesi curhat di akhir majelis.






Ah kisahnya mirip2 dg kisah seorang akhawat dahulu