Pada pertandingan Jujitsu, permainan bisa saja seri. Terutama ketika dua petarung sama pandainya membaca gerakan lawan. Mereka akan terlibat saling kunci, hingga tak ada yang menang, dan kalah.
Sebenarnya, apa yang menarik dari sebuah pertandingan Jujitsu bagi penulis, tidak terletak pada pertarungan itu. Tapi prinsip kekuasaan yang hadir dalam pertarungan itu, kemenangan. Pertarungan Jujitsu menjadi potret relasi kuasa (lihat Foucault). Bagaimana individu menampilkan hasratnya untuk mengalahkan yang lain. Tapi pada fase tertentu, terjadi relasi sama kuat, petarung saling kunci, hingga satu ronde, biasa tak menghasilkan angka. Pertarungan seri.
Entah, apakah ketika Brandeis (1915) mengurai relasi saling kunci, ia usai menyaksikan pertarungan jujitsu. Ia pemikir ilmu komunikasi yang pertama kali mengenalkan hubungan saling mengunci. Tepatnya pada jaringan mengunci antara lembaga atau organisasi (interlocking directorate). Kalau disambung-sambungkan, pikirannya tentang relasi saling kunci, prinsipnya kurang lebih sama pada pertarungan Jujitsu. Relasi ini terjadi bila kekuatan berimbang. Hanya saja, pada relasi saling kunci di ranah sosial dan politik, kekuatan mengunci justruĀ terletak pada kelemahan.
Oleh Brandeis, jaringan komunikasi interlocking directorate mengandung konflik kepentingan dalam perusahaan (politik). Relasi ini cenderung mengaburkan kebenaran. Kemudian, pada perkembangannya, tidak hanya relasi antara lembaga, para pengkaji relasi ini, rupanya bisa menguak hingga level lebih kecil dari organisasi. Pada Individu. Hubungan saling kunci antara lembaga, atau organisasi tak lebih, efek dari keterlibatan aktor yang representatif pada lembaga itu.





