Editor 16 Februari 2024

أحييتَ أمالي و كنتُ أمتُّها # من طول ما لاقيتُ من إخواني

(Wahai para pemimpin), engkau menghidupkan harapanku dan aku mematikannya, dalam rentang waktu yang lama aku tidak bertemu saudara-saudaraku.

Dari timing wafatnya sastrawan ini, 1919 M, ia terkatagori khalaf, maka wajar jika karyanya mengritisi kondisi kekinian, semisal praktek demokrasi, meski memang ia tidak menyebutkannya secara langsung dengan lafdzun sharîkh. Dalam pemilihan, dimulai dari PILKADES, PILBUP, PILKADA hingga PILPRES, para kandidat cenderung menyampaikan janji manis seperti pendidikan gratis, makan gratis, kesehatan menjajikan, lapangan kerja semakin terbuka, infrastruktur modern dan lain sebagainya, dan memang hal-hal tersebut sejatinya adalah dambaan setiap warga. Namun di sisi lain, diakui maupun tidak, pelaksanaan pemilu dengan multipartai juga menyisakan persoalan, misalnya adanya satu anggota keluarga yang berselisih dengan anggota keluarga lainnya gegara beda pilihan dan jagoan.

أدلي بإخلاصي و أذوذ عن # أعراضهم بجوارحي و لساني

Aku begitu ikhlas dan membela kehormatan mereka dengan fisik dan lisanku.

Para suporter, rakyat kebanyakan sebagai simpatisan, begitu luar bisa menunjukkan kecintaan dan dukungan kepada partai dan atau jagoan pilihannya. Lihat saja, betapa mereka rela berpanas-panasan atau kehujanan ketika menghadiri kampanye, memakai aneka atribut dukungan, sebagian pria merelakan mahkota di atas kepalanya dicukur dengan menyisakan nomer urut tertentu, bahkan jika ada yang menjelekkan atau merendahkan partai dan atau jagoan pilihannya maka serta merta akan dibela dengan aneka rangkaian kata walau ia bukan pujangga, adu mulut dan atau perang kata di media sosial yang ada.

Leave a comment.

Your email address will not be published. Required fields are marked*