Editor 25 November 2020

Oleh : Sapta Rini

“Apakah Anda bahagia?”  Jika pertanyaan ini diajukan kepada guru-guru di Indonesia, kira-kira apa jawaban yang didapatkan? Lebih dominan mana, jawaban “Ya” atau jawaban  “Tidak”? Mungkin guru-guru yang membacanya akan tersenyum penuh arti.

Akan berbeda dengan jawaban para guru di Finlandia. Bukan bermaksud mengecilkan guru di Indonesia. Kenyataannya guru-guru di Finlandia merasakan kondisi yang sangat berbeda dengan di Indonesia.

Selain mendapatkan posisi yang sangat terhormat di negaranya, para guru di Finlandia juga diberikan gaji atau penghasilan yang besar.

Mereka diberikan kesempatan untuk senantiasa mengembangkan kompetensinya. Tentunya menyenangkan ya, jadi guru di Finlandia.

Beberapa hal yang menjadi indikasi seorang guru tidak bahagia adalah sering mengeluh. Keluhan ini muncul dari kekecewaan atas apa yang dialaminya.

Lingkungan kerja yang tidak nyaman, pimpinan yang kurang kompeten, fasilitas yang tidak sesuai harapan, peserta didik yang tidak taat aturan, dan lain lain.

Ada pula persoalan klasik dari masa ke masa bagi guru honorer atau guru sekolah swasta yaitu penghasilan yang tidak memenuhi standar upah minimum regional.

Keluhan guru bertambah seiring dengan kondisi pandemi yang mengharuskan pembelajaran jarak jauh (PJJ). Minimnya fasilitas pembelajaran seperti gawai, laptop dan sinyal internet menjadi kendala dalam mengajar daring.

Ditambah lagi dengan keluhan orangtua siswa karena harus berbagi gawai dengan anaknya dan keharusan mendampingi anak mengerjakan tugas di rumah. Akibatnya tidak semua peserta didik dapat mengumpulkan tugas tepat waktu.

Guru juga jadi kerepotan dalam melakukan evaluasi pembelajaran. Belum lagi para guru yang memiliki anak yang juga harus mengikuti pembelajaran jarak jauh. Hal-hal ini menambah beban psikologis bagi guru yang bersangkutan.  

Leave a comment.

Your email address will not be published. Required fields are marked*