Editor 21 Oktober 2020

Tulisannya sering muncul, tersebar dari grup ke grup dan kegiatannya ‘sambung menyambung menjadi satu’ dari satu negara ke negara lainnya atau zoom ke zoom lainnya–di masa pandemi.


Para santri yang disebutkan di atas masing-masing berkemampuan untuk menimbulkan efek perubahan pada dunia sekitarnya. Dunia yang terhubung pada mereka–komunitas, pertemanan, jejaring–mendapatkan pengaruh dari intensi dan tindakan mereka.

Wujud keagensian mereka terlihat dari berbagai produk, kader, dan sphere of influence terhadap dunia mereka. Nama mereka sering oleh komunitasnya, bahkan tak jarang juga di luar komunitasnya.


Satu hal yang terkadang luput dari agensi para santri mashur adalah penciptaan tulisan masterpiece. Membangun sekolah, pesantren, kampus, pusat studi atau komunitas itu sudah biasa di kalangan santri. Akan tetapi, membuat tulisan masterpiece terlihat belum menjadi intensi serius bagi mereka.


M. Quraish Shihab termasuk santri (atau kiai tepatnya) yang serius menulis masterpiece. Tafsir Al-Mishbah adalah karya itu. Tafsirnya ringan dan mudah dipahami oleh publik Indonesia. Tidak hanya mengutip Thabathabai’i tapi ia juga mengutip Ibnu Taimiyyah, Ibnu Qayyim, hingga Sayyid Quthb, penulis Tafsir Fi Zhilalil Qur’an dari Mesir. Karya ini bisa disebut masterpiece dari sekian banyak karyanya.

Leave a comment.

Your email address will not be published. Required fields are marked*