Abdul Malik atau yang dikenal dewasanya sebagai Haji Abdul Malik Karim Amrullah (Hamka), tidak berpendidikan tinggi, tapi dia ‘beruntung’ dapat kesempatan menuntaskan Tafsir Al-Azhar di penjara dua tahun lebih. Ada berkah terselubung, blessing in disguise, ketika harus mendekam di hotel prodeo itu. Masterpiece ‘cendekiawan muslim Asia’, mengutip James R. Rush dari Arizona State University, tentu saja ada pada tafsir tersebut.
Mohammad Natsir tidak menulis tafsir seperti Hamka, tapi tulisannya banyak tersebar, salah satunya Capita Selecta, kumpulan tulisan tentang agama, filsafat, kebudayaan, pendidikan, ketatanegaraan, dan integrasi agama dan negara. Pengaruhnya yang luar biasa dalam ‘mosi integral’ membuat namanya harum di sepanjang eksistensi NKRI. Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia (DDII) juga bisa disebut masterpiece (berbentuk komunitas, tempat, dan cita-cita) yang telah melahirkan banyak tokoh setelahnya.
Para santri yang disebutkan di atas telah berbuat sesuai minatnya, peluang dan tantangan yang ada di zamannya, dan melahirkan warisan untuk generasi penerus. Ada yang mewariskan komunitas, sejarah, cita-cita, hingga teladan baik untuk orang sesudah mereka.
Karya mereka, mulai dari yang berbentuk agensi tindakan sampai pada agensi tulisan adalah bagian dari kontribusi muslim demik kemajuan bangsa dan negaranya. Mereka telah berbuat, selanjutnya sejarah menunggu kiprah para santri setelah mereka.
Jakarta, 21 Oktober 2020





