Oleh : Abdul Chalid, Dosen Ilmu Politik UTS Makassar
Di atas kursi kayu, tepat disisinya sebuah kayu dengan nuansa klasik, Anies Baswedan duduk bersandar. Di latarnya terdapat sebuah rak yang diisi buku tertata rapi. Dan, sebuah meja kayu yang di atasnya foto-foto keluarganya yang terbingkai.
Anies sepertinya menyukai furniture berbahan kayu yang klasik. Furniture kayu yang hanya dibaluri plitur agar warna dan corak kayunya tetap tampak.
Anies dalam suasana santai, mengenakan kemeja dan sarungan. Ia membaca buku. Melihat sepintas poto Anies yang disebar teman di media sosial itu, saya tak memiliki kesan apapun. Di kepala saya, gubernur DKI itu tengah santai baca buku.
Belakangan ramai. Saya pun baru menyadari, poto sosok yang tengah jadi media darling akhir-akhir ini memiliki pesan politik yang kuat. Pesan itu bukan pada suasana santai atau latar tempat mantan rektor Paramadina itu tengah baca buku.
Dalam komunikasi politik, pesan bertransformasi melalui media apapun. Verba dan non verba. Foto adalah verba. Pesannya adalah buku berjudul, “How Democracies Die”. Saya selalu teringat kata-kata teman-teman Fotografi, “Satu poto berbicara lebih dari 5 ribu kata-kata”.





