Editor 27 November 2020

Poto ketika diumbar ke publik maka jadi milik publik. Berarti, tiap individu di ruang publik bebas menafsirkan pesan yang disampaikan. Poto Anies juga begitu. Saya menafsirkannya sebagai bentuk komunikasi politik.

Anies berusaha menyampaikan pandangan dan kegelisahannya terkait kehidupan sipil dan politik di Indonesia. Ia menyampaikan perspektifnya dari posisinya sebagai gubernur yang seakan tak diinginkan oleh para politisi di sekitar kekuasaan pemerintah pusat.

Karena tak diinginkan, Anies mungkin merasakan betul, tiap langkahnya diawasi. Pijakannya ditunggu-tunggu ke luar dari jalur, meski sedikit. Seperti dalam kasus yang tengah dihadapinya itu.

Anies memang tak mengeluarkan satu kata. Tapi, How Democraces Die, menjadi potret kegelisahannya atas kehidupan bernegara.

How Democracies Die ditulis oleh profesor Harvard, Steven Levitsky dan Daniel Ziblatt. Keduanya profesor untuk ilmu pemerintahan.

Daniel dan Steven mengutarakan sebab-sebab hancurnya demokrasi. Mereka sesungguhnya tengah memotret kehidupan berdemokrasi di Amerika yang mengalami degradasi.

Leave a comment.

Your email address will not be published. Required fields are marked*