Editor 29 Desember 2025

Penanganan banjir Aceh 2025 memberikan pelajaran penting bahwa manajemen bencana adalah soal politik dan komunikasi publik, bukan semata-mata logistik. Kegagalan dalam merespons bencana dengan cepat, transparan, dan penuh empati dapat memicu krisis kepercayaan yang berdampak pada erosi rasa kebangsaan. Di Aceh, krisis ini diperdalam oleh resonansinya dengan sejarah konflik dan trauma masa lalu. Kemunculan simbol-simbol historis dan menguatnya narasi “pengabaian negara” adalah sinyal bahaya bahwa jika negara tidak hadir secara otentik, masyarakat akan menemukan perlindungan dan makna kebersamaan dalam identitas lokal yang eksklusif.

Untuk mencegah dampak jangka panjang, negara harus belajar bahwa membangun rasa kebangsaan tidak cukup dengan narasi besar di atas kertas, melainkan dengan aksi nyata yang membuktikan bahwa setiap warga negara, di mana pun mereka berada, adalah bagian yang tak terpisahkan dari bangsa ini.

Sampai hari ini penanganan pasca bencana banjir di Aceh masih berlangsung. Ribuan orang masih hidup di tenda darurat karena tak lagi memiliki rumah. Penyelesaian bencana Aceh mesti menjadi salah satu prioritas pemerintah pusat dalam beberapa tahun ini. Bila tidak, sentimen lokal akan semakin tumbuh kuat di tengah-tengah masyarakat. (*)

 

Leave a comment.

Your email address will not be published. Required fields are marked*