Editor 14 Oktober 2020

Sinrilik, sastra lisan budaya masyarakat Makassar yang diwariskan turun temurun. Sampai kini masih ditemukan dalam kehidupan masyarakat di daerah bekas Kerajaan Islam Makassar yang meliputi beberapa wilayah bertutur bahasa Makassar di Indonesia.

Namun, hanya terhitung jari saja yang masih mempertahankannya. Tak sama dulu, ketika Sinrili menjadi hiburan utama pada semua momentum sosial. Sekarang, pada berbagai pementasan atau momen atau kegiatan penting seperti pengantinan, pesta panen,  seremonial instansi pemerintah, dan lain-lain, sinrilik sulit ditemukan dalam deretan daftar acara.

Seiring perkembangan zaman, sinrilik mulai tidak dikenal di kalangan masyarakat Makassar modern. Apalagi di kalangan milenial. Kebudayaan ini ter-alienasi ke pinggiran, dan mengendap jadi milik beberapa orang  yang masih peduli. Padahal, di masa lalu, baik pada masa kejayaan kerajaan Makassar, maupun di masa kemerdekaan, sastra bertutur ini menjadi hiburan masyarakat yang digandrungi di pentas budaya. Selain sarat dengan tawa, sinrilik juga disenangi karena cerita yang dituturkan penuh dengan heroisme, serta pesan-pesan moril.

Syarifuddin Daeng Tutu bersama ditemani seorang mahasiswa yang sedang belajar sinrilik

Di bekas kerajaan Makassar. Satu, dua passinrilik dapat ditemukan di daerah Kabupaten Gowa. Salah satu yang dikenal yaitu Syarifuddin Daeng Tutu. Sosok berusia 60 tahun ini telah mendedikasikan sebagian besar masa hidupnya untuk sinrilik. Bahkan sampai kini, saat budaya modern telah merasuki kehidupan masyarakat Makassar. Ia kukuh mempertahankan sinrilik pada pada berbagai pentas budaya. Tak hanya itu, ia juga berusaha menularkannnya ke generasi sekarang.

Daeng tutu mengenal kegiatan sastra ini sejak kecil. Minatnya terhadap sinrilik muncul begitu saja saat tradisi ini masih menjadi bagian kuat dari tradisi masyarakat makassar.

“Saya kurang ingat lagi sebenarnya. Sejak kapan saya mulai tertarik dengan sinrilik. Dari kecil, tahun 60-an, saya hidup dan suka bergaul dengan pengembala kerbau. Meski orang tua saya tidak punya kerbau. Mengisi waktu gembala, mereka biasa main sinrilik. Dan, masa itu juga masyarakat petani sering menggelar hajatan pesta panen dimana sinrilik ikut dipentaskan. Di situ saya mulai memperhatikan permainan seni ini. Akhirnya, saat besar, saya tertarik memainkan alat musik tersebut”, terang lelaki kelahiran Gowa, tahun 1955 tersebut.

Leave a comment.

Your email address will not be published. Required fields are marked*