Editor 14 Oktober 2020

Minatnya Daeng Tutu didukung oleh keluarganya yang notabene berasal dari kalangan terdidik. Termasuk ayahnya yang seorang pegawai negeri dengan jabatan sebagai panitera kepala pertama di Kabupaten Gowa. Apalagi ibunya yang juga  dikenal sebagai Anrong Bunting yang banyak dipercaya masyarakat di daerahnya saat itu. Profesi yang terkai acara perkawinan itu sedikit banyak juga terkait dengan seni dan tradisi.

Daeng Tutu termasuk pula terpelajar karena sekolah di teknik menengah, Jurusan Listrik. Level pendidikan yang cukup prestisius di masanya. Sebab itu, pilihannya dalam berkesenian sinrilik adalah langkah yang sepenuhnya ia sadari.

Sinrilik Sebagai Sastra Lisan

Sebagai kegiatan berkesenian, sinrilik dikategorikan sebagai karya sastra lisan, atau dapat pula disebut sebagai prosa. Di kalangan masyarakat Makassar, tak cukup catatan yang memuat tentang kebudayaan ini. Pengamat atau penggiat budaya dan musik dari Universitas Negeri Makassar , Arifin Manggau, menerangkan bahwa sinriliki sesungguhnya dipengaruhi kuat kebudayaan Timur tengah. Pengaruh kuat itu dapat dilihat dari alat musik yang digunakan, kesok-kesok atau umum dikenal dengan istilah rebab. 

“Sinrilik itu adalah jenis musik chord de folk. Sumber bunyinya berasal dari dawai yang dibentangkan atau senar. Tidak ada referensi yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah untuk menerangkan tradisi sinrilik secara lokal. Oleh karena itu, saya lebih melihatnya sebagai pengaruh tradisi luar. Secara teori organologi, konstruksi alat musik secara etmusikologi sangat mendekati kebudayaan Arab atau Timur Tengah umumnya. Idiomnya bersamaan dengan gambus, rebana, rebab, dan lain-lain yang ikut hadir ketika penyiaran Islam secara formal masuk ke Sulsel. Atau, sebelumnya, ketika bangsa-bangsa Arab melakukan perdagangan ke bandar Makassar”, terang dosen yang dikenal pula sebagai seniman tersebut.

Arifin menerangkan lebih lanjut, sinrilik dilagukan dengan dan tanpa musik kesok-kesok. Pada masyarakat Makassar dua cara penyajian sinrilik tersebut dibedakan dengan istilah Sinrilik Pakesok-kesok dan Sinrilik Bosi Timurung. Pada pentas budaya masyarakat yang lama. Ke duanya sering ditampilkan.

Sinrilik Pakesok-kesok dilagukan dengan iringan alat musik kesok-kesok. Kesok-kesok atau dikenal pula dengan istilah rebab, berbentuk sederhana. Bahannya terbuat dari kayu dengan menggunakan dua senar. Hampir mirip dengan biola. Juga sama-sama digesek. Sementara irama musik kesok-kesok disesuaikan dengan lantunan syair yang mengalir dari passinrilik. Kemudian, menurut Arifin isi cerita biasanya lebih banyak menuturkan sejarah perjuangan, dan kepahlawan. 

Leave a comment.

Your email address will not be published. Required fields are marked*