Editor 14 Oktober 2020

Kesok-kesok, alat musik sederhana menyerupai biola ini adalah pelengkap sinrilik. Alat musik sederhana ini terdiri dari dua senar. Agar dapat menghasilkan bunyi khas, bagian bodi depan kesok-kesok ditutup dengan kulit kambing. Dan, untuk memainkan kesok-kesok dibutuhkan sebuah alat kesok, talinya tersusun dari bulu ekor kuda.

“Kesenian ini unik. Kita bertutur sambil memainkan alat musik. Juga sarat dengan pendidikan moral. Di samping itu, kesenian ini tidak terikat pada waktu dan tempat tertentu. Seperti dahulu, kesenian ini adalah bagian dari kehidupan sehari-hari orang Makassar. Kapan dan di mana saja bisa dimainkan. Apakah di atas panggung atau di pematang sawah sekalipun saat gembala kerbau”, tutur Daeng Tutu mengungkap alasan, kenapa ia akhirnya memilih kesenian sinrilik.

Kemudian alasan lainnya, soal eksistensi seni ini di pentas budaya masyarakat. “Minat saya kian besar ketika melihat seni ini tak lagi populer. Saya seperti tak rela bila kesenian yang sempat saya rasakan kehadirannya pada masa lalu ini hilang atau punah. Karena itulah, saya benar-benar menggelutinya, dan mengajarkannya kepada generasi sekarang”, terang Daeng Tutu yang penjelasannya ia tembang dalam sinrilik.

Seiring waktu, sinrilik telah menjadi bagian dari diri Daeng Tutu. Ia benar-benar meresapinya. Nada yang lahir dari alat musik sinrilik melibatkan rasa katanya. Tak ada kunci nada yang baku digunakan. “Nada sepenuhnya subjektif seorang passinrilik”, ujarnya.

Yang lebih utama dari sinrilik, kata Daeng Tutu adalah adanya kemauan besar dan konsistensi dari penggiatnya. “Karena itu, menggeluti seni ini tak perlu sekolah ke pendidikan tinggi atau bahkan keliling dunia belajar musik dan sastra. Konsistensi kita yang penting. Bagaimana memelihara idealisme seni ini agar tetap bertahan”, ujar seniman yang telah diundang ke berbagai negara tersebut.

Di masa sekarang, minat terhadap kesenian ini sangat minim. Anak-anak muda yang memiliki perhatian terhadap sastra sinrilik hanya bisa dihitung jari. Fenomena ini tentu saja membuat hati daeng tutu terenyuh. Tetapi tidak patah arang. Sebab itu, di usianya yang menjelang senja, Daeng Tutu justru makin bergairah untuk memomuliskan sinrilik di pentas budaya mesti tertatih.

Untuk menjawab tantangan ini, ia berusaha pula untuk kontekstual. Di berbagai pentas, ia tak jarang memainkan sinrilik berlatar sosial masyarakat hari ini. Menurutnya, banyak pesan sinrilik yang mesti dikomodifikasi agar dapat menyesuaikan diri dengan perubahan dan kemajuan untuk masa yang akan datang. “Tantangan terbesar sebagai seorang passinrilik terletak pada persoalan tersebut”, tukasnya.

Leave a comment.

Your email address will not be published. Required fields are marked*