“Di dalam syair-syairnya, sastra yang dituturkan itu banyak bercerita patriotisme. Di Makassar tentu saja, syairnya banyak bercerita sejarah, tapi fokus pada sosok. Menyanjung heorisme sosok pemimpin dalam perang melawan VOC dan Belanda di masanya. Seperti Sultan Hasanuddin, Karaeng Galesong, I Makde Daeng Ri Makka, dan lainnya”,jelasnya.
Di Sulawesi Selatan atau di makassar khususnya, terdapat beberapa naskah sinrilik pakesok-kesok yang dikenal. Antara lain, Sinrilik Kappala’ Tallumbatua, Sinrilik I Makdik Daeng ri Makka. Sinrilik I Manakku’ Caddi-caddi dan lain sebagainya. Dari cerita-cerita tersebut, Kappalaktallumbatua termasuk syair kontroversial.
Kappalak Tallumbatua bercerita tentang munculnya ramalan tentang perang Makassar. Menurut Arifin lagi, cerita ini banyak mengandung mitos dan dinilai sarat dengan politik masa lalu. Khususnya pada Perang Makassar. “Menceritakan 3 kapal yang menghancurkan kerajaan Makassar. Sebenarnya dalam sejarah banyak kapal pihak VOC yang menyerang Makassar. Hanya dalam cerita itu disebut 3 kapal. Mungkin karena dahulu kabut masih bersentuhan dengan bumi sehingga kapal-kapal lain tidak terlihat dari jauh”,urainya .
Masyarakat Makassar juga mengenal Sinrilik Bosi Timurung. Seni folk yang dituturkan tanpa iringan kesok-kesok. Dilagukan mengikuti suasana hati. Biasanyanya isi dari sinrilik bosi timurung berupa curahan hati. Baik ketika tengah jatuh cinta, atau tengah bersedih. Syair-syairnya sangat mendayu-dayu serta penuh penghayatan.
Sinrilik ini sering juga berisi pesan-pesan agama. beberapa syair Sinrilik Bosi Timurung yang biasa disenandungkan sekarang yaitu Kitta’na Tulkimak, Kitta’na Bodolo’ Akherat, Kitta’na Jayalangkara dan lain sebagainya. “Pada dasarnya sinrilik merupakan kesenian dan sastra yang dikemas dalam bentuk sederhana. Selain berisi cerita atau pelajaran hidup, sinrilik berisi pula pesan-pesan moril”, tukas Arifin menambahkan penjelasannya.
Seperti sebuah karya sastra umumnya yang butuh selera seni dan penjiwaan. Begitu pula sinrilik. Daeng tutu yang melakoni rutinitas sebagai passinrilik selama berpuluh tahun memiliki sudut pandang sendiri tentang sastra yang lahir dari rahim masyarakat ini. Lalu sebagai seorang passinrilik, apa yang memikatnya hingga bertahan di tengah serbuan seni kontemporer nan modern?





