Ditjenpas Imipas Latih Pegawai Bermasalah di Nusakambangan. Aleg PKS ; Mantap!
Keseriusan Direktorat Jenderal Pemasyarakatan (Ditjenpas) dalam kasus pengedaran Narkoba di Lembaga Pemasyarakatan kini baru diakui oleh Anggota Legislatif (Aleg) Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Hj Meity Rahmatia. Pengakuan ini diutarakannya setelah Ditjenpas Imipas mengungkap telah melakukan pembenahan manajemen keamanan dan pengawasan Lapas di seluruh Indonesia.
Diantara upaya Ditjen Imipas itu adalah mengirim sebanyak 140 pegawai yang terbukti melakukan pelanggaran ke Nusakambangan untuk mengikuti pelatihan dan pembinaan selama satu bulan-Pelanggaran ratusan pegawai ini beragam, dari lalai hingga terlibat dalam beberapa kasus, termasuk dalam kasus pengedaran Narkoba yang melibatkan artis Ammar Zoni dkk baru-baru ini di Salemba.
“Saya mengapresiasi langkah nyata dari Ditjen Imipas tersebut. Tindakan seperti inilah yang saya nanti-nantikan selama ini. Tidak sekadar wacana dan bahan diskusi dalam setiap rapat bersama di Komisi XIII,” Jelasnya.
Politisi perempuan dari Sulsel itu mengatakan, Lapas sudah lama menjadi sorotan publik. Diantara yang diamati adalah persoalan manajemen, termasuk kapasitas Lapas yang terbatas. “Jumlah narapidana dan warga binaan dari waktu ke waktu terus bertambah sementara fasilitas ruangan Lapas tidak bertambah, “imbuhnya.
Meity menjelaskan lebih lanjut bahwa over kapasitas menjadi faktor yang bisa menyebabkan banyak masalah berikutnya. Dampak pertama, rasio jumlah petugas Lapas dengan jumlah napi tidak sebanding. Napinya banyak, akhirnya pengawasan dari petugas bisa tidak maksimal. Namun belakangan hal itu bisa diatasi dengan teknologi CCTV,” jelasnya.
Selain itu, masalah psikologi bisa pula muncul dari situasi lingkungan yang sesak. Menurut politisi asal Sulsel tersebut, petugas dan napi sama-sama bisa mendapat tekanan psikologi yang mendorong untuk berbuat menyimpang. Termasuk memanfaatkan situasi untuk mendapatkan keuntungan ekonomi seperti “jual-beli” ruangan atau fasilitas khusus, penggunaan telepon genggam, dan pengedaran Narkoba.
“Dalam masalah Narkoba. Lapas memiliki citra buruk. Sampai-sampai berkembang istilah di tengah masyarakat,biasanya kalau sebatas pengguna masuk Lapas, nanti kalau keluar sudah jadi pengedar. Dan kalau ditangkap dan masuk lagi, levelnya bisa naik lagi menjadi bandar. Istilah satir itu menunjukkan betapa Lapas itu identik dengan pengedaran Narkoba,” terang Meity menutup penjelasannya kepada wartawan.





