Editor 21 Maret 2022

“Barat membuat indikator pembangunan masyarakat modern berdasarkan ukuran mereka sehingga seringkali berbenturan dengan sistem budaya, sosial dan lingkungan yang dimiliki masyarakat di negara yang dianggap memiliki tingkat pendidikan, kesehatan dan ekonomi yang rendah. Termasuk di Indonesia”.

“Pada aspek lingkungan misalnya, banyak daerah yang mengalami kerusakan lingkungan akibat memburu pertumbuhan ekonomi yang diukur secara makro.  Karena memburu rangking pertumbuhan ekonomi, daerah-daerah mencari jalan singkat, yaitu dengan membuka kran investasi di bidang pertambangan”.

“Nah, IPM ini bisa dijadikan alat peringatan dini bagi pemerintah di daerah. Apa yang perlu dibenahi dari tiga aspek pembangunan tadi bila berada pada rangking menengah atau di bawah.  Namun, jangan melihat pada kuantitas rangkingnya saja. Masyarakat mesti menganalisa IPM secara kualitas”.

“Publik harus menganalisa angka-angka pertumbuhan dari aspek pendidikan, kesehatan, dan pertumbuhan ekonomi. Bidang pendidikan misalnya, analisai kualitas penyelanggaraan pendidikan dari segi pemerataan sumber daya guru dari kota ke desa, kualitas SDM guru, infrastruktur, dan lain-lain. Di bidang kesehatan. Bagaimana kualitas pada tingkat pelayanan kesehatan dasar di puskesmas, posyandu. Juga termasuk infrastrukturnya”.

“Pada pertumbuhan ekonomi. Mari kita analisa dampak ekonomi sebagai substansi dari pertumbuhan tersebut. Apakah berpengaruh terhadap kesejahteraan masyarakat? Berpengaruh terhadap pengentasan kemiskinan dan pengangguran?”.

Leave a comment.

Your email address will not be published. Required fields are marked*