Di antara quotes Fajar yang menarik di media sehingga sosoknya jadi “arus baru” di media, adalah begini:
- “Perbedaan kamu dengan Naruto. Naruto seribu bayangan, kamu seribu alasan.”
- “Lelah berjuang tapi orang lain yang dapat.”
- “Sakit boleh, bodoh jangan.”
- “Dia yang menikmati saya yang disakiti. Entar akhir cerita dia yang ke pelaminan, saya yang jadi tamu undangan.”
- “Jika orang mengucapkan kebenaran pada orang pintar, orang pintar akan percaya, tapi jika mengucapkan kebenaran pada orang bodoh, orang bodoh akan tersinggung.”
- “Kalian hanya bisa melihat tapi tidak bisa merasakan.”
- “Orang berjuang akan kalah dengan orang beruang.”
Quotes nomor 7 itu mengena di hati warganet atau netizen. Orang yang berjuang mati-matian bisa kalah dengan orang yang punya uang. Ini sebenarnya kayak “hukum rimba” dalam proses pernikahan yang usianya sudah purba, siapa “kuat” uang dia dapat; bahwa acapkali orang dilihat berdasarkan uangnya, bukan berdasarkan ketulusannya.
Citra baru yang mengangkat nama Fajar Sadboy itu tidak lepas dari kemampuannya untuk menyiasati kesedihan. Kesedihan itu dibaca oleh media sebagai keunikan, bernilai berita, dan layak diviralkan. Maka, berlomba media menviralkan sosok Fajar Sadboy, apalagi tema cinta itu tema yang tidak pernah ada habis-habisnya; sejak dulu sampai sekarang kepedihan cinta selalu menyita perhatian manusia. Itulah kenapa cerita kepedihan tidak pernah kehabisan penggemarnya.
Netizen kita senang dengan sesuatu yang ringan dan menghibur. Mereka terlalu berat untuk mencerna teori-teori yang disuguhkan akademisi. Beberapa akun TikTok berusaha untuk memudahkan sesuatu yang rumit jadi sederhana, dan itu berhasil. Ada pendekatan berbasis keunikan, kecanggihan, dan sesuatu yang membuat mata dan telinga netizen tertarik untuk mengikuti video tersebut sampai tuntas.
Kembali pada bagian awal, dunia kita adalah dunia aliran. Semuanya mengalir, dan untuk itu perlu dialirkan. Seperti air hujan yang saat ini masih membasahi bumi, manusia juga mengalir dengan dirinya. Darah kita tiap hari mengalir di tubuh dan membuat kita bisa bisa beraktivitas seperti biasanya. Mungkin tidak salah jika dikatakan bahwa kehidupan tidak lepas dari aliran, dan siapa ingin menjadi sesuatu maka ia harus mengalirkan apa yang ada dalam dirinya.





