Editor 30 Januari 2021

Namun, sejak remaja hingga di bangku perkuliahan. Saya melihat brand Eiger ini punyai loyalis militan. Tak jarang, saya mendapati orang dengan memunggungi tas Eiger (maaf) sudah memudar tapi tetap kokoh di punggungnya tanpa jahitan yang cacat sesentipun. Dipakai berhari-hari. Belum sandal khas Eiger yang sudah menipis dipakai menahun ( pengalaman paksu juga😉) tapi tetap kuat dipakai, tanpa keraguan akan putus sekalipun dipakai lari beberapa km. Saking mengisyaratkan sekalipun brand lokal, tapi kualitasnya juara. Gak kalah saing dengan merk luar. Pernah juga saya mendapat anak-anak yang merengek ingin dihadiahi hanya tas Eiger untuk kebutuhan sekolahnya. Apalagi zaman now, dimana lifestye orang telah masuk di era leisure economy. Dimana pola konsumsi orang banyak bergeser ke hiburan dan rekreasi. Bukti konkrit, di masa pandemi sekalipun, makin jamak kita jumpai orang bersepeda, berlari, dilakukan berkelompok. Tentunya dengan ditopang atribut outdoor yang kece dan fashionable. Eiger termasuk di kelompok atas, brand yang konsisten menyediakan segala pernak-pernik outdoor. Dari kaum ‘sepedaan’ hingga kaum ‘pendaki’.

Namun beberapa hari terakhir, citra positif Eiger tercoreng oleh ulah oknum manager localnya. Entah karena begitu jumawa dan kePEDEan karena menjelang 3 dekade eksistensinya di masyarakat, dan dengan ratusan toko offline yang menyebar di seantero negeri, seorang youtuber yang merupakan pelanggannya dikritik dan disurati personal, karena telah me-review produk Eiger tanpa memperhatikan standarisasi khusus yang diinginkan Eiger. Fatalnya, konten video tsb diminta dihapus oleh pihak Eiger.

Leave a comment.

Your email address will not be published. Required fields are marked*