Dan, Muhammad SAW tak sekadar membebaskan Bilal. Lebih darinya, risalah Islam merombak tatanan perbudakan itu sendiri yang membebaskan manusia dari penghambaan kepada sesamanya. Mengembalikan sosio-politik masyarakat kepada ketauhidan. Manusia tunduk hanya kepada Allah SWT.
Muhammad, Rasulullah SAW melakukan segalanya atas perintah Rabb-Nya yang agung. Allah Subhana Wata’ala, berfirman di dalam surah Al Balad (Negeri):
“Aku bersumpah dengan negeri ini (Mekah). Dan engkau (Muhammad), bertempat di negeri ini. Dan demi (pertalian) bapak dan anaknya. Sungguh, kami telah menciptakan manusia berada dalam susah payah. Apakah dia (manusia) itu mengira bahwa tidak ada sesuatu pun yang berkuasa atasnya? Dia mengatakan, “aku telah habiskan harta yang banyak”. Apakah dia mengira bahwa tidak sesuatu pun yang melihatnya? Bukankah kami telah menjadikan untuknya sepasang mata, dan lidah dan sepasang bibir? Dan kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan (kebajikan dan kejahatan). Tetapi dia tidak menempuh jalan yang mendaki dan sukar. Dan tahukah kamu jalan yang mendaki dan sukar itu? Yaitu melepaskan perbudakan (hamba sahaya), atau memberi makan pada hari terjadi kelaparan, kepada anak yatim yang ada hubungan kerabat, atau orang miskin yang fakir” (Ayat 1-16).
Bilal yang memeluk Islam di awal penyebaran di Mekah memiliki derajat sama sebagai manusia di hadapan manusia lainnya. Ditunjukkan dengan samanya kedudukan Bilal di sisi Nabi sebagai sahabat yang tak berbeda dengan lainnya. Ia bahkan mendapat kepercayaan dari Rasulullah sebagai muadzin pertama yang hingga kini, namanya selalu diingat dan didoakan oleh umat Islam.
Beberapa ratus tahun setelah kisah Bilal dan masa kenabian Muhammad SAW, kejahiliaan masih terjadi di berbagai belahan dunia. Perbudakan yang ditantang oleh ajaran tauhid masih dipraktikkan oleh bangsa-bangsa superior. Terutama di barat.
Kolonialisasi oleh barat sejak abad 16 hingga abad 21 menempatkan orang-orang berkulit hitam dari Afrika maupun kelompok masyarakat terjajah lainnya berada dalam lingkaran perbudakan.
Hingga hari ini, meski telah runtuh bersamaan lahirnya kemerdekaan bagi negara-negara terjajah, jejak perbudakan itu masih terasa yang ditemukan dalam tindakan rasialis dan diskriminatif.
Di Amerika yang menganut paham demokrasi dan telah memprolamirkan penghapusan perbudakan serta kesetaraan hak bagi kulit hitam di tahun 1865, keturunan Afro-Amerika masih merasakan itu. Floyd korban di antaranya.
Tak hanya di Amerika, di banyak tempat, di balik tirai gelap tentunya, jejak jahiliyah itu masih sering terjadi. Dan karena itu, penganut Islam sebagai ajaran pembebasan tak boleh diam, sebagaimana pembebasan yang dilakukan Nabi Muhammad SAW dan para sahabatnya. Sebagaimana pembebasan Bilal oleh Abu Bakar atas perintah Nabi Muhammad SAW.
Dalam perspektif Islam, pembebasan dan kecintaan terhadap kemanusiaan adalah bentuk pelaksanaan keimanan. Seperti Sabda Rasulullah:





