Kemerdekaan mereka dicabut sebagai manusia yang setara dan bebas sama seperti lainnya. Hidup budak mengalami dependensi secara ekonomi dan keamanan baik secara sosial, terlebih lagi politik.
Dalam relasi patron-klien, budak jauh di bawah seorang klien yang bisa mengabdi secara sukarela pada seorang tuan. Tidak terikat dan bisa berpindah tuan secara mudah. Budak mengabdi lebih karena terpaksa.
Pada masyarakat Arab jahiliyah, atau pra Islam misalnya, seorang budak memiliki pilihan sulit. Mereka bisa bebas dari pengabdian bila mampu membayar kemerdekaannya dengan nilai tertentu. Mereka bisa diperlakukan sekehendak sang tuan.
Kondisi serupa juga berlaku pada masyarakat lainnya, seperti di tengah masyarakat Romawi dan Persia yang memiliki peradaban lebih maju di masa itu.
Latar dan arena kehidupan sosio-politik yang penuh perbudakan, yang penuh penindasan inilah, satu di antara tatanan hidup manusia yang ditantang oleh ajaran Islam. Di tengah masyarakat Mekah, kehidupan ini diwakili Bilal yang menderita sebagai budak.
Penderitaannya itu lebih berat lagi setelah ia memeluk risalah langit yang diemban rasul terakhir, Muhammad SAW.
Atas perintah Nabi, Bilal dibebaskan atau merdeka setelah ditebus oleh sahabat lainnya. Sejarah menyebut nama Abu Bakar Assidiq RA. Sahabat Nabi yang terpercaya itu mendapat misi saat Bilal tengah disiksa keras oleh tuan dan rekan-rekan Quraisy-nya.
Siksaan itu berupa deraan, dipasung atau kerangkeng di pohon kurma, diseret di padang pasir nan terik, hingga ditimpuk batu sampai nyaris tak bernyawa.
Rasulullah akhirnya menghapus corak masyarakat Quraisy yang jahiliyah, yang termasuk perbudakan di dalamnya itu. Rasulullah Muhammad SAW berseru ketika menaklukkan dan memasuki Kota Mekah ;
“Hai golongan Quraisy! Allah telah melenyapkan daripada kalian kesombongan jahiliyah dan kebanggaan nenek moyang. Manusia itu dari Adam. Sedang Adam dari tanah!”





