Editor 2 April 2023

Mari menengok beberapa realitas sosial yang terjadi saat ini yang menunjukkan bahwa persepsi itu sebenarnya sudah bergeser. Di kampus tempat saya bekerja, sudah menjadi pemandangan biasa anak ikut kepada ayahnya di tempat kerja. Di tempat anak bungsu saya bersekolah, sudah lebih dominan ayah mengantar anaknya ke sekolah. Di tempat jogging saya, rata-rata teman yang terlambat ikut karena menjadi “tukang ojek” istilah para ayah yang rutin mengantar anaknya ke sekolah.

Yang menarik juga, ketika penerimaan rapor, banyak anak yang ditemani oleh kedua orangtua mereka.  Tidak jarang juga saya melihat ayah yang menemani anaknya menghadap ke guru kelas. Tentu saya tidak ingin menggeneralisir kasus di sekitar saya, namun pembagian peran orangtua dalam mengurus anak sudah sangat maju. Paling tidak, sudah menjadi bagian dari kesadaran kolektif masyarakat ketika ayah mengerjakan pekerjaan yang dulunya dianggap “tabu”. Saya bahkan menduga, ketika beberapa kaum ayah membaca coretan ini, mereka bergumam dalam hati kalau mereka melakukan kegiatan pengasuhan lebih dari yang saya gambarkan.

Pertanyaan berikutnya, mengapa Nyai Badriyah “memaksa” saya  untuk mengulas aspek jalan tengah pengasuhan ini? Karena menurutnya ada bangunan tradisi yang masih sangat berpihak pada peran simbolik ayah yang cenderung mencederai rasa keadilan banyak ibu. Misalnya, efek dari tradisi “nama kedua” anak yang selalu dinisbatkan kepada ayahnya bukan ke ibunya. Tradisi ini berkonsekuensi pada pemanggilan anak di ruang publik, misalnya pemberian penghargaan. Yang selalu dipanggil adalah ayahnya, sementara bisa saja ibunya yang berjibaku terhadap hadirnya prestasi anaknya.

Leave a comment.

Your email address will not be published. Required fields are marked*