Editor 12 Oktober 2020

Dan penumpangnya belum keluar dari kendaraan? “Ya Rabbii… aku telah tega meninggalkan mobil pick-up itu, siapa tau penumpangnya butuh bantuan”, aku membatin.

Ku pinggirkan kendaraan, terlihat dari sepion kanan 2 buah mobil berhenti memberi pertolongan, demikian juga warga sekitar. Aku yang seperti orang linglung, hanya mendoakan mudah-mudahan penumpangnya gak kenapa-kenapa, selamat sehat wal afiat sambil pelan-pelan kulajukan kendaraan.

Doa itu terus menerus ku panjatkan sepanjang perjalanan untuk mengurangi rasa bersalahku tidak turun dari kendaraan saat itu, dan tentu saja mohon ampunanNya karena telah meninggalkannya dengan kesadaran yang terlambat. (tears-pen)


Tetap kulajukan mobilku dengan kecepatan sedang. 80 kilometer per jam. Rasa was-was dan dagdigdug atas kejadian tadi, sempet melintas membuatku waspada dan penuh kehati-hatian. Ini adalah pengalaman pertamaku mengemudikan kendaraan dalam jarak tempuh yang jauh dan sendirian. Ini juga kali pertama aku melihat kejadian terhempasnya kendaraan ke tengah jalan dengan kondisi pengemudi dan penumpang masih di dalamnya. Aku begidik ngeri. Hiiiiiii…

2 thoughts on “Kisah Subuh Menuju Parepare

Leave a comment.

Your email address will not be published. Required fields are marked*