Ku lirik jam digital di dashboard mobil. Jam 6 kurang. Waktu fingerprint masih satu setengah jam lagi. Aku harus bergegas melanjutkan perjalanan. Ku lajukan kembali mobilku. Kembali bersinergi kedua tangan dan kaki sesuai job masing-masing. Kaki kiri injak kopling, kaki kanan injak pedal gas, tangan kiri naikkan tuas persneling, dan tangan kanan memutar setir ke kanan.
Gigi satu melajukan kendaraan, Disusul gigi dua, tiga, dan tak sabar tangan kiri mendorong tuas ke depan sebelah kanan. Hingga masuklah gigi lima. Tepat di kecepatan 100 kilometer perjam. Jalanan stabil. Sedikit tambalan aspal tak menyurutkan laju kendaraan. Sesekali geser kanan-kiri menghindari lobang-lobang kecil yang berserakan.
Pagi yang buta, rupanya masih membuat warga enggan beraktifitas keluar rumah, sehingga membuat jalanan sepi dan nyaman sekali dilalui.
Sawah, perkampungan, jalanan rel kereta api, jembatan, perkantoran dan banyak sekali pemandangan sekitar yang kulalui. Pas jam 7 wita, sebuah gerbang warna hijau jadi bando di jalanan bertuliskan selamat datang Kota Parepare.
Aku merasa bahwa Kota Parepare telah menunggu kedatanganku, hingga menyapa dengan sangat ramah ‘selamat datang’. Aku tersenyum lega dan lirih ku ucap ‘terimakasih sambutannya’. *






Fiiamanillah bu desi. Perlu diagendakan lagi kayaknya ketemuan di pare nih ☺️
yuk..meet up di reza cafe lagi…