Satu jam berlalu dari pangkal titik tolak, langit mulai menampakkan diri, pepohonan mulai terlihat hijau, dan sorot lampu mobil sudah tak berarti membantu penerangan. Kubuka kaca jendela mobil disampingku. Angin bertiup dingin menyejukkan, lebih sejuk dari udara AC yang menghantam wajah sejak sejam berlalu. Ada yang menggelitik benak ini, namun tak sempat ku mendefinisikan.
Pelan ku turunkan kecepatan mobil, kaki kanan dan kiri kompak menginjak rem dan kopling. Sementara tak ketinggalan tangan kiri mundurkan tuas persneling ke gigi 2, sambil tangan kanan memutar setir perlahan ke kiri. Fix, mobil bergerak ke tepi jalan dan berhenti dengan sangat manis.
Udara sejuk masih merajai wajah dan tubuhku. Tercium aroma dedaunan dan tanah basah akibat hujan rintik sebelumnya. Ku lempar pandangan ke kanan, mentari mulai tersenyum penuh arti. Jingga..berpadu dengan biru menampilkan warna eksotik sekaligus energik untuk siapa saja yang menikmatinya.
Sepertinya alam sedang bercengkrama pagi ini. Biru dan jingga saling bertatap mesra, sawah keemasan tersenyum malu saat burung pipit mencolek ujung padinya, dua buah pohon kelapa terlihat dari kejauhan seperti siluet makhluk yang sedang bercakap syukur, sementara pohon randu membuka seluas-luasnya untuk cahaya mentari menyentuh pipi dedaunan dengan hangat.
Ku ambil gadgetku, cekrek! Satu bidikan tepat disaat mentari merengkuh semua makhluk dengan warna kuningnya.. Sungguh romantis alam ini. Keindahan dunia yang selalu menjadi nostalgia bagi makhluk hidup bernama manusia.






Fiiamanillah bu desi. Perlu diagendakan lagi kayaknya ketemuan di pare nih ☺️
yuk..meet up di reza cafe lagi…