Editor 16 Oktober 2020

Sebagai makhluk ciptaan Tuhan, manusia yang telah dibekali dengan berbagai kelebihan sesungguhnya tidak diciptakan begitu-begitu saja. Ada makna yang lebih dari sekedar menggunakan potensi untuk makan, minum, atau hidup ala kadarnya. Makna itu adalah produktivitas yang berbasis pada keyakinan kepada Sang Pencipta.

Sebuah rasa malu jika berbagai kelebihan yang dianugerahkan-Nya tidak dimanfaatkan untuk mengabdi setulus-tulusnya kepada Dia, sekaligus berkhidmah sebaik-baiknya kepada manusia dan alam. Perasaan malu itu akan menggerakkan seorang beriman untuk menjadi pribadi produktif dalam ranah yang dia sukai dan dia minati. Hasilnya, cepat atau lambat akan dirasakan oleh manusia.

Rasa malu merupakan sifat pendorong manusia untuk menunaikan kewajiban, menyambung silaturahmi lewat online maupun offline, menghormati dan mendoakan kedua orang tua, bertekad untuk menjadi “tanda mata” yang baik dari orang tua, berlaku adil kepada manusia, tidak zalim ketika sedang berada di puncak kuasa karena kuasa itu tabiatnya sementara dan kerap menipu.

Leave a comment.

Your email address will not be published. Required fields are marked*