Editor 16 Oktober 2020

Rasa malu akan mendorong seorang beriman untuk menyadari dirinya bahwa eksistensi hidupnya tidak sekedar untuk makan, tidur, dan online. Tapi, dia hidup untuk mengenal dirinya: siapa diri saya, saya berada di mana, dan saya hendak kemana? Orang beriman menyadari bahwa dia adalah ciptaan Sang Maha Pencipta yang dengan kekuasaan dan keadilannya yang meliputi segenap persada. Dia ada, dia melihat kita, dan dia selalu mengirimkan pesan lewat berbagai fenomena alam besar (semesta) dan alam kecil (diri).

Rasa malu mulai hilang ketika manusia telah tunduk pada hasrat hewani. Sebuah hasrat fisikal semata, survival saja, orientasi sementara saja, dan jauh dari makna kenapa sebuah tindakan harus dilakukan. Ketika hasrat hewani mendominasi maka pikiran, perasaan, dan tindakan manusia telah terpenjara oleh tabiat rendah, dan lambat laun dia memaklumi bahwa “inilah diri saya”, sebuah ketidakberdayaan yang diperturutkan secara akumulatif.

Maka, kita melihat pikiran, perasaan, dan tindakan manusia produktif di berbagai tempat. Mereka sadar bahwa diri ini adalah amanah yang kelak akan ditanya oleh yang punya: apa yang kau lakukan dengan amanah pikiran, perasaan, dan tubuhmu ketika di alam fana?

Leave a comment.

Your email address will not be published. Required fields are marked*