Kemahiran da’i dalam mengemas pesan agama sangat diperlukan agar pesan yang disampaikan mampu memberikan dapak, maka membaca serta merumuskan gagasan dan mengolah pesan sedemikian rupa juga diperlukan dalam proses menyampaikan pesan.
Hal yang sangat perlu juga diperhatikan ialah bagaimana kemampuan para dai membaca psikologis madh’u terkait tema yang perlu disampaikan sesuai konteks kekinian tanpa menghilangkan substansi muatan ilahiahnya.
Matinya Mimbar Khatib
Dalam perkembagannya di Indonesia, dakwah disampaikan dengan cara dan sarana yang berbeda oleh para dai. Tidak sedikit yang berhasil mengubah pola fikir masyarakat dalam memahami ajaran agama, namun banyak juga yang sama sekali tidak menikmati pesan agama bahkan tidak memahami sama sekali karena dai yang tidak maksimal dalam mentransformasikan pesan dakwah dengan baik kepada madh’u.
Tulisan ini berangkat dari fenomena ketidakmampuan kebanyakan para dai yang secara normatif hanya mampu membaca teks namun tidak mampu menyampaikan konteks terlebih pada metode menyampaikan pesan dengan strategi yang efektif dan efisien. Konteks yang dimaksud para khatib khutbah yang sekadar membaca teks atau buku yang kemudian terkesan monoton sehingga kurang memberikan kesan dakwah yang seharusnya dihayati sebagai pesan agama, berbalik menjadi cerita dongeng yang mampu menidurkan para jamaah.
Fenomena ini biasa terjadi di masjid-masjid desa. Masalah ini bisa jadi dilihat dari berbagai aspek, mungkin saja ketidakmampuan dai dalam mengemas pesan dakwah yang didasari pada latarbelakang pendidikan, ataukah ketidaksiapan panitia masjid dalam menetapkan para khatib yang mumpuni dalam menyampaikan pesan agama khususnya pada saat khutbah jum’at.





