Ibu hamil tidak hanya menghadapi tantangan fisik, tetapi juga tekanan mental yang signifikan. Perubahan hormonal, kecemasan akan persalinan, hingga masalah hubungan sering kali memengaruhi kesejahteraan mental mereka. Jika tidak dikelola dengan baik, kondisi ini dapat memicu gangguan kesehatan mental seperti stres dan depresi yang berisiko bagi ibu dan janin.
Lebih dari itu, kasus kekerasan terhadap ibu hamil masih menjadi fenomena yang mengkhawatirkan. Data menunjukkan bahwa pada tahun 2020 di Sulawesi Selatan terdapat hampir 2.000 kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak. Di Makassar, kasus kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) kerap menempatkan ibu hamil dalam bahaya. Salah satu insiden tragis melibatkan seorang ibu hamil delapan bulan yang terpaksa mencari perlindungan di Rumah Aman.
Kesehatan mental ibu hamil adalah hal yang krusial untuk memastikan kesejahteraan keluarga. Lantas, bagaimana dampaknya jika kesehatan mental ini terganggu, dan langkah apa saja yang dapat dilakukan untuk mencegah risiko kekerasan?
Kesehatan Mental Ibu Hamil dan Risiko bagi Janin
Gangguan mental selama kehamilan, seperti depresi dan stres, dapat berdampak serius pada janin. Produksi hormon stres (kortisol) yang berlebihan mengurangi suplai nutrisi ke plasenta, meningkatkan risiko pertumbuhan janin terhambat (IUGR), kelahiran prematur, dan berat badan lahir rendah (BBLR). Bahkan, penelitian menunjukkan stres berkepanjangan pada ibu dapat mengubah struktur otak janin, meningkatkan risiko gangguan emosi dan konsentrasi pada anak di kemudian hari.





