Pertama, pemilihan secara langsung ini menuntut biaya politik yang sangat mahal. Hampir setiap peserta mengeluarkan biaya besar, terutama untuk membayar suara pemilih yang cenderung pragmatis.
Dalam banyak informasi dan berdasarkan wawancara dengan sejumlah peserta Pileg 2024, masing-masing peserta yang serius bekerja, baik dari kalangan petahana maupun pendatang baru mengeluarkan biaya dengan rata-rata 700 juta ke atas. Umumnya di angka 2 miliar rupiah percaleg.
Entah, faktor apa yang mendorong budaya pragmatis ini. Tapi ada indikasi kuat, bahwa tahun 2024 didominasi oleh generasi Z. Dan tahun ini merupakan tahun dengan populasi pemilih pemula yang cukup besar, yaitu dari generasi Y.
Menurut data Komisi Pemilihan Umum (KPU) dari 204,8 juta pemilih di tahun 2024, sebesar 25 juta adalah pemilih pemula (usia 17-25 tahun). Mereka merupakan generasi yang belum matang menghadapi proses politik di tanah air. Cenderung pragmatis. Hal ini diperkuat lagi oleh kondisi ekonomi pasca Covid yang belum sepenuhnya pulih. Daya beli masyarakat lemah. Lapangan pekerjaan sempit dan pengangguran tidak kentara cukup besar.





