Editor 4 November 2020

Pernahkah denger tentang kambing hitam? Tentu bukan karena kambing itu berwarna hitam. Bukan pula yang telah digulai dengan lumuran kecap berwarna hitam. Tapi ini adalah pengandaian/ungkapan peribahasa yang sering kita dengar.

Kambing hitam yang merupakan sebuah ungkapan berarti pelemparan kesalahan pada pihak lain. Yang belum tentu (bahkan kebanyakan) adalah bukan karena pihak lain tersebut.

Tapi mengapa banyak manusia selalu mengkambinghitamkan orang lain jika kepentok masalah? Tentunya, karena melempar masalah ke orang lain adalah cara paling mudah dan paling enak bagi orang punya masalah. Ini adalah cara paling menyenangkan dan menenangkan dalam waktu tercepat, namun juga cara paling tidak produktif dan tidak bermartabat bagi siapa saja.

Saya katakan paling tidak produktif karena masalah yang dilempar ke orang lain, bukanlah penyelesaian atau solusi, meskipun menenangkan secara cepat. Juga tidak bermartabat, karena membuat susah orang lain yang belum tentu mengerti duduk persoalan sesungguhnya.

Ketika seseorang melempar kesalahan pada orang lain (mengkambinghitamkan orang lain), biasanya karena orang tersebut merasa tinggi dari orang lain. Entah merasa tinggi karena jabatan, pangkat, usia, senioritas dan lain-lain. Dengan rasa ‘tinggi’ tersebut sangat mudah dan bahkan menjadi kebutuhan untuk melempar masalah kepada orang lain. Merasa ‘tinggi’ adalah candu.

Leave a comment.

Your email address will not be published. Required fields are marked*