Sampai dengan saat ini Indonesia masih berjuang mengalahkan pandemi covid-19. Kebijakan new normal ditempuh sebagai jalan tengah antara kebutuhan beraktivitas sebagai penggerak ekonomi disertai protokol kesehatan yang ketat dengan upaya serius mengalahkan virus.
Secara teori kesehatan yang terkonfirmasi dari data yang ada menunjukkan tidak ada kaitan antara jenis kelamin dengan pola persebaran covid-19. Namun demikian tulisan singkat ini mencoba memberikan refleksi era new normal dalam perspektif perempuan.
Hal ini sebagai upaya memandang secara utuh bahwa perempuan mampu sebagai subjek yang berperan positif dan objek yang turut terdampak situasi yang belum sepenuhnya normal.
Perempuan pemutus hoax new normal Informasi hoax terkait dengan new normal begitu banyak tersebar. Media sosial sering menjadi sarana menyebarkan informasi yang memperkeruh keadaan. Pemerintah dan berbagai pihak telah berusaha keras mengatasi hal ini.
Perempuan pun bisa berperan dengan melakukan penyebarluasan informasi yang benar melalui media sosial yang mereka miliki. Data Susenas 2019 mencatat bahwa 85,75 persen perempuan Sulawesi Selatan mengakses media sosial, lebih tinggi dibanding laki-laki yang sebesar 84,97 persen. Tulisan, status, posting yang bermuatan positif akan memberikan dampak psikologis dan kekuatan bersama melawan pandemi ini.





