Editor 23 November 2021

Pertanyaan elementernya adalah mengapa terjadi kesenjangan tersebut? Ada dua   kemungkinan penyebab. Pertama, publik minim pengetahuan perihal sikap politik yang diambil PKS alias ada masalah serius dalam soal komunikasi politik ke publik. Sinyalemen ini patut menjadi perhatian jika kita menengok hasil survei di Provinsi Banten. Saat ditanyakan partai politik apa yang menurut penilaian responden yang bersikap oposisi, tiga besarnya adalah PKS (36.5%), Gerindra (15.8%), dan Demokrat (11.7%). Di sini, Gerindra adalah fenomena menarik, yakni sebagai partai penguasa namun dipersepsikan juga sebagai partai oposisi. PKS yang terdepan dan terkemuka dalam garis oposisi politik tak meraih bahkan oleh separuh responden sekalipun.

Kedua, soal wacana yang diproduksi dalam arus besar hegemoni koalisi pemerintahan. Di sini relevan mendiskusikan soal kontekstualitas wacana yang dikeluarkan oleh elite partai yang terkait dengan isu-isu substansial yang relevan dengan kepentingan publik. Ada banyak isu substansial yang bisa dikelola untuk meraih simpati publik. Sebagian diantaranya sudah disinggung di atas. Seperti kualitas demokrasi yang terpuruk, tingkat korupsi yang mengkhawatirkan, penanganan pandemi Covid-19 yang berlarut, gurita oligarkhi politik dan ekonomi, dan lain sebagainya. Dan, ini yang maha penting, apa tawaran solusi dari PKS. Dalam konteks produksi wacana ini, boleh jadi publik mempersepsikan dan menilai oposisi PKS sebagai antara ada dan tiada.

Dalam sisa waktu sekitar 2,5 tahun menuju 2024 ini tak pelak harus memanfaatkan kesukaan pemilih akan partai politik yang bersikap oposisi dengan cara publikasi massif bahwa PKS adalah partai oposisi. Tentu saja bukan sekadar asal beda, tapi konstruktif dan solutif.

Leave a comment.

Your email address will not be published. Required fields are marked*