Editor 12 Maret 2023

Teori Maslow banyak juga yang bantah dan kritik, bahwa hierarki kebutuhan manusia tidak selamanya berlangsung linear seperti yang diutarakannya itu.

Pada kenyataannya, kita seringkali menyaksikan manusia melakukan gaya hidup yang zig-zag. Walau ekonominya masih gonjang ganjing. Toh, ia aktualisasi diri tanpa tedeng aling-aling.

Ada kan itu pepatah, biar miskin asal sombong, wakaka! Guyon dan sedikit satir. Tapi kalau dipikir-pikir, agak “nyambung” dengan realitas. Artinya, cukup banyak anomali seperti itu dalam kehidupan sehari-hari yang kita saksikan secara langsung.

Ambil contoh Indonesia. Negara kita ini dikenal sebagai negara paling dermawan di dunia; menurut Charities Aid Foundation yang merilis World Giving Index tahun 2022. Padahal, kita tahu kelas menengah atau dalam bahasa Maslow disebut manusia yang pada tahapan safety needs di Indonesia adalah kelas ekonomi mayoritas.

Jumlah itu ditambah lagi yang menengah ke bawah. Cukup banyak. Menurut Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah penduduk miskin Indonesia pada Maret 2023 sebesar 25,90 juta orang. Benar, apa tidak. Kita percaya sajalah BPS, hehe.

Kalau mengikuti tahapan hidup Maslow, peluang mayoritas masyarakat Indonesia untuk tidak dermawan sesungguhnya bisa lebih besar . Sebab, mereka masyarakat yang belum selesai dengan pemenuhan kebutuhannya yang belum stabil. Menurut Maslow, tipe masyarakat seperti ini belum memiliki kesempatan untuk menyisikan banyak waktu berbuat sosial.

Grafik World Giving Index 2022 oleh CAF

Namun aspek ini saya anggap sebagai perilaku yang lahir secara alamiah dari dalam masyarakat Indonesia. Pada sisi ini, saya begitu percaya, agama dan budaya yang tumbuh di tengah masyarakat kita memiliki peran terhadap perilaku kedermawan orang Indonesia itu sendiri.

Leave a comment.

Your email address will not be published. Required fields are marked*