Perilaku tak pernah puas oleh oknum elit kekuasaan dan pejabat ini sesungguhnya telah menjadi tontonan publik atau masyarakat luas dalam waktu lama. Perilaku yang berulang-ulang, dan negara seolah tak punya kekuatan untuk meminggirkannya.
Peristiwa ini seakan telah menjadi pola, dan menciptakan memori kolektif di sebagian kalangan masyarakat menengah bawah, “elit tak pernah memikirkan mereka”.
Yang kaya, kian kaya, dan miskin kian miskin. Rasa was-was sebagaimana kata-kata itu benar-benar tumbuh di benak orang seperti mas penjual cendol dekat rumah saya tadi. Gejalanya, dapat dicermati dari sikap mereka yang terkesan apatis dan pasrah pada momen proses politik di Indonesia.
“Pemilihan presiden juga sudah berkali-kali terjadi, setiap lima tahun. Tapi kita begini-begini saja”. Saya ingat kembali jawaban mas penjual cendol.
Iyah juga. Tapi, mari kita tetap optimis dan mendoakan usaha mas penjual cendol, kelak bisa lebih meningkat. Sebuah peningkatkan yang kita harap bisa berjalan seiring dengan capaian-capaian yang digapai para elit dan oligarki yang bekerjasama pada setiap proses politik. Yang selalu meningkat dari sisi omset, kekayaan, dan tanah-tanah mereka.(*)





