Editor 12 Maret 2023

Islam misalnya, yang dianut oleh mayoritas masyarakat di negara ini, sangat menganjurkan pemeluknya sebagai pribadi yang murah hati, dengan banyak memberi atau bersedekah kepada manusia lain yang membutuhkan.

Selalu bersedekah menurut Islam itu, ya berarti aktivitas yang bersambung-sambung dan berkelanjutan. Dan, dilakukan dalam keadaan lapang maupun sempit. Konsep itu diperkuat lagi dengan ajaran untuk  mencintai orang miskin, anak-anak yatim, orang tua, dan kaum tertinggal lainnya.

Islam menegaskan bahwa dalam setiap harta orang muslim itu, terdapat sekian persen hak orang miskin dan anak yatim atau orang tidak mampu lainnya. Dan, hak itu mesti disisihkan dari harta pribadi orang Islam sekali setahun yang dikenal dengan zakat.

Pada aspek budaya juga demikian. Hampir seluruh komunitas sosial dan budaya di Indonesia yang dikenal dengan kelompok etnik mengenal konsep gotong royong.

Jadi, tidak heran bila di Indonesia, kita seringkali menemukan orang-orang yang secara ekonomi belum aman bila ditinjau dari teori Maslow, namun sangat aktif dalam berbagai aktivitas sosial.

***

Untuk bermanfaat, tak perlu tunggu kaya. Barangkali saja, adigium itu benar-benar ada dalam benak hampir setiap manusia Indonesia, terutama kalangan umat Islam.

Secara, memang dalam teologi Islam, manusia dipandang sebagai makhluk yang tak pernah puas diri. So, banyak yang walau sudah kaya, ia berpotensi terjebak pada pusaran tingkat kebutuhan dasar ala Maslow. Selalu merasa belum cukup. Frasa agama menyebutnya tidak bersyukur.

Kalau sudah punya rumah besar nan mewah satu, mau tambah jadi dua. Punya mobil mewah satu, juga mau tambah. Begitu terus, sampai hartanya berkarun-karun. Begitu kan?? Kita tengoklah kasus-kasus korupsi oknum pejabat yang muncul ke publik hari-hari ini. Kesannya seperti itu. Tak pernah puas atau kata lain, korup yang disebabkan sifat “rakus”.

Leave a comment.

Your email address will not be published. Required fields are marked*