Dongeng biasanya ditulis seperti gaya penceritaan secara lisan. Serta pendahuluan dalam cerita sangat singkat dan lansung pada topik yang ingin diceritakan.
Dongeng dapat dibedakan menjadi tujuh jenis, yaitu mite, sage, fable, legenda, cerita jenaka, cerita pelipur lara dan cerita perumpamaan, mite merupakan bentuk dongeng yang menceritakan hal-hal gaib seperti cerita tentang dewa, peri ataupun Tuhan. *
Sage merupakan cerita dongeng tentang kepahlawanan, keperkasaan, atau kesaktian. Fabel merupakan dongeng tentang binatang yang bisa berbicara atau bertingkah laku seperti manusia.
Legenda merupakan bentuk dongeng yang menceritakan tentang suatu pristiwa mengenai asal usul suatu benda atau pun tempat.*
Cerita jenaka merupakan cerita yang berkembang dalam masyarakat yang bersifat komedi serta dapat membangkitkan tawa contoh cerita pak belalang.
Cerita pelipur lara biasanya merupakan bentuk cerita yang bertujuan untuk menghibur para tamu dalam suatu perjamuan dan diceritakan oleh seorang ahli cerita seperti wayang yang diceritakan oleh seorang dalang.
Cerita perumpamaan merupakan bentuk dongeng yang mengandung kiasan, ibarat nasihat-nasihat, yang bersifat mendidik contoh seorang haji pelit. Cerita daerah ialah cerita yang tumbuh dan berkembang di suatu daerah.
Dongeng biasanya mengandung lima unsur intrinsik yaitu tema, alur, penokohan,latar, amanat. Tema merupakan ide pokok dari cerita dan merupakan patokan untuk membagun suatu cerita. Alur merupakan jalan cerita yang diurutkan besarkan sebab-akibat atau pun besarkan urutan waktu.*
Penokohan merupakan proses penampilan tokoh dengan pemberian watak, dan sifat. Latar merupakan salah satu unsur pembentuk cerita yang menunjukana di mana, dan kapan rangkaian-rangkaian cerita itu terjadi. Amanat merupakan pesan yang ingin disampaikan pengerang kepada pembaca melalui cerita yang dibuatnya.
Memperkenalkan Cerita Lokal ke Pentas Nasional dan Internasional
Di Sulawesi Selatan, jenis-jenis dongeng tersebut juga banyak diwariskan. Bahkan dalam bentuk karya sastra terpanjang, seperti dalam I La Galigo. Karya itu dapat disebut sebagai epos dan legenda.
Tapi hampir sebagian besar lokasi yang menjadi latar La galigo, memiliki kesamaan dengan nama-nama daerah di Sulawesi. Semua jenis dongeng ditemukan di dalamnya, dari kepahlawanan, fabel, dan lain-lainnya.
Selain La Galigo, sangat banyak cerita lain yang diwariskan nenek moyang masyarakat sulawesi selatan. Misalnya saja cerita tentang terbentuknya komunitas masyarakat Wajo yang dikenal dengan Putri Taddampalik. Cerita masyarakat Toraja, Landorundun, dongeng Nenek Pakande, dan masih banyak lagi.





