Terkulainya cerita dongeng di tengah masyarakat mengetuk pintu hati Kak Heru. Mulanya, ia mendorong anaknya, Safira yang dikenal sebagai pendongeng remaja mengembangkan bakat mendongengnnya.
Dari anaknya inilah, Kak Heru banyak pula belajar mendongeng. Dirinya berusaha menyambungkan kembali memori sejarah yang terputus pada generasi sekarang.
Meski tak memiliki latar pendidikan seni, keinginan Kak heru membangkitkan kembali dongeng cukup besar. Ia awali dengan membuat rumah dongeng. Rumah yang di dalamnya ada dirinya, istri dan anaknya.
Heru identik menjadi kelurga pendongeng, meski di luar itu, istrinya tetap eksis pada profesinya. Heru yang seorang web desainer, memilih berhenti dari tempat kerjanya, dan fokus berdongeng. Heru mengajak para orang tua di Makassar, atau di manapun, berserta anak-anaknya menjadi bagian dari rumah dongeng.
“Teknologi komunikasi yang canggih saat ini harus dimanfaatkan juga untuk menyebarluaskan dan membangkitkan nilai lokal masyarakat kita. Seperti budaya berdongeng yang sudah lama hilang pada masyarakat modern.
“Saya memutuskan membangkitkan kembali budaya ini, dan berusaha menyesuaikannya di era disrupsi saat ini. Sangat banyak pesan dan pelajaran positif dari dongeng-dongeng masyarakat lokal yang bisa disebarkan kepada generasi sekarang. Saya ajak para orang tua menghidupkan kembali budaya ini di rumah-rumah mereka”, terangnya.
Semangat Kak Heru dalam membangkitkan kembali budaya mendongeng ini, benar-benar serius. Selain berhenti dari pekerjaannya, anaknya, Safira Devi Amorita, terus ia berikan ruang dalam aktivitas seni ini meski kian beranjak dewasa.
Anaknya itu mulai mendongeng saat usia sekolah dasar. Dan, sekarang sudah tercatat sebagai mahasiswa semester akhir di Departemen Hubungan Internasional, Universitas Hasanuddin. Waow, bisa dibayangkan, betapa Fira telah menguasai seluk beluk seni bertutur itu.
Dalam mendongeng, Safira dikenal begitu menghayati perannya. Ia sangat fasih menuturkan kisah-kisah dongeng yang bersumber dari rahim masyarakat Sulawesi Selatan.
Seperti dongeng Nenek Pakande yang turun temurun dituturkan di tengah masyarakt Bugis dan Makassar. Safira bahkan mampu pula mengekspresikan setiap cerita dengan lakon.
Kepiawaian Safira di atas pentas dongeng sekaligus lakon, telah ia asah semenjak kecil. Pada kelas 5 Sekolah Dasar, ia telah dikenal sebagai pendongeng di sekolahnya. Di usia itu ia terpilih mewakili kota Makassar pada lomba dongeng nasional yang digelar di Jakarta. Ia berhasil juara. Setelahnya, Safira terus mendongeng sampai sekarang.
Safira menyampaikan berbagai jenis cerita. Tapi sebagian besar cerita yang disampaikan adalah cerita rakyat, khususnya cerita rakyat Sulawesi Selatan. Ia bertujuan memperkenalkan budaya lokal kepada masyarakat luas sekaligus melestarikannya.
Melalui dongeng, Safira berharap agar kebudayaan lokal kita dapat dikenal oleh lebih banyak orang, khususnya oleh anak-anak.Ia menyampaikan cerita dengan kemasan menarik agar dapat menghibur anak-anak.





